Bukan Soal Halal Haram, Tapi Apakah Garuda Akan Kita Biarkan Jadi Emprit?

Madu 2021-01-12 Ahmad Muzammil


Bagi saya pribadi, soal utama masalah vaksin dan penanganan covid-19, bukan dari sisi halal haram-nya. Bukan berarti status hukum fiqh tersebut tidak penting. Tentu penting, akan tetapi, kita semua yang telah belajar fiqh, ushul fiqh dan qawa'id fiqhiyah, memahami bahwa untuk urusan ijtihadiyah seperti ini tinggal maunya kita apa?  Apakah vaksin ini mau dihukumi wajib atau makruh bahkan haram, semua bisa tergantung narasi dan penalaran yang dibangun.

Sudah biasa terjadi dari berbagai sudut pandang (awjuh atau wujuh) yang melahirkan perbedaan pendapat (ikhtilaf)  sampai dua bahkan tiga pendapat (qaulani atau aqwal) antar ulama' fiqh dalam hal-hal yang bersifat ijtihadiyah (ghairu manshush alaiha), karena ada perbedaan dalam menentukan cantolan hukum (takhrij dan tanqih al manath) dan peng-kawin-an antara cantolan tersebut dengan realitas atau kasus yang mau dihukumi (tahqiq al manath). Juga berbedanya kecenderungan dalam mengetrapkan qaidah ushuliyah dan qaidah fiqhiyah.

Semuanya bisa dan sah secara fiqh karena setiap hasil ijtihad tidak boleh mengintervensi hasil ijtihad lainnya. Hasil ijtihad tidak bisa dibatalkan oleh hasil ijtihad (al ijtihad laa yunqadlu bil ijtihad).

Persoalannya adalah, Burung Garuda yang sudah terlanjur dijadikan simbol kebesaran negara kita tercinta ini. Para pendiri bangsa sangat tepat menjadikan burung garuda sebagai simbol karena sebenarnya kita ini memang bangsa yang besar, kita ini memang garuda bukan emprit.

Coba lihat kebelakang, ada Kerajaan Mataram Islam yang peninggalannya sampai hari ini bisa kita saksikan dengan jelas. Besar dan hebat.

Sebelumnya ada Jaka Tingkir dengan Gelar Sultan Hadiwijaya sebagai penguasa Kerajaan Pajang yang mampu menaklukkan 41 ekor buaya. Sebelumnya ada kesultanan Demak yang didirikan oleh Wali Songo. Besar hebat dan kuat. Sebelumnya ada Majapahit dengan Maha Patih Gajah Mada yang meneriakkan sumpah Palapa untuk menyatukan nusantara. Besar sekali sampai ke Philipina, Vietnam, Kamboja dan India. Kuat gagah berani, lebih dari Garuda. Sebelumnya ada Padjadjaran  dengan Prabu Siliwangi-nya. Sebelumnya juga ada Sriwijaya (tanpa air lho). Besar kuat dan hebat. Dan seterusnya seterusnya.

Lihatlah Borobudur, Prambanan,  keraton Boko, Gunung Padang dan lain-lain. Semua itu bukti kebesaran bangsa Ini. Bangsa ini bukan hanya garuda tapi jauh diatas nya. Bukan emprit.

Tapi akhir-akhir ini sepertinya garuda telah dilupakan. Sejak covid-19 datang, pemerintah langsung memutuskan untuk impor obat-obatan dari China. Dan sekarang jutaan vaksin impor dari China juga telah siap untuk disuntikkan kepada anak-anak bangsa yang bersimbol garuda ini.

Sekali lagi bukan soal status hukum vaksinnya. Tapi kenapa garuda langsung keok begitu saja. Dikemanakan pengalaman panjang kehidupan bangsa ini?, kenapa kita tidak menggali kepada sejarah kita sendiri untuk menemukan obat anti virus covid-19? Kenapa tidak mencari vaksin kepada Mataram, Pajang, Demak, Majapahit, Padjadjaran, Sriwijaya,  Kutai Kartanegara?

Ditenggelamkan kemana pengalaman orang-orang Jawa, Suda, Madura, Betawi, Batak, Melayu, Bugis, Mandar, Dayak, Banjar, Berau, Tunjung, Paser, Minahasa, Talaud,  Ambon, Asmat, Sumba, Helong, Sasak, Bone, dan lain sebagainya?

Itu semua yang mengilhami para pembesar dahulu menjadikan garuda sebagai simbol NKRI.  Kenapa semua itu tidak digali dan diberdayakan. Boro-boro digali, dilirik saja sepertinya tidak. 

Sekali lagi, begitu kabar covid-19 masuk, perhatian "pembesar masa kini" langsung ke China dan negara antah berantah nun jauh disana, hutang dan impor. Apakah garuda akan berubah menjadi emprit?

Apakah akan kita biarkan?

Jawablah sendiri sendiri.

 

Editor: Fahmi