Kita Hidupkan Pikiran Positif (3)

Madu 2020-06-29 Ahmad Muzzammil


Inti manusia terletak pada potensi non fisiknya, yaitu akal, hati, ruh, dan nafsunya. Organ fisik sekedar alat atau pasukan dari potensi ruhaniyah tersebut. Pergerakan dan dinamika kehidupan manusia sebenarnya pergerakan keempat potensi tersebut. Oleh karenanya agama dan pendidikan itu penting.

Organ fisik mulai kepala, mata, hidung, telinga, mulut, leher, dada, tangan, perut, kaki sampai kemaluan, bermakmum kepada kepemimpinan jiwa yang empat. Maka sebagian besar masalah dalam kesehatan organ fisik (ada yang berkata 90%), disebabkan oleh masalah didalam jiwa manusia. Selebihnya, karena pola makan atau materi yang masuk kedalam tubuh seperti polusi dll. Itupun apabila pertahanan atau imunitas tubuh yang disebabkan oleh pikiran tidak tangguh.

Jiwa atau pikiran yang positif akan melahirkan pandangan yang optimis dan penuh gairah. Badan menjadi kuat karena sirkulasi darah beredar lancar, otot-otot hidup, sel-sel saraf otak berfungsi maksimal, pernafasan tidak ada hambatan, pencernaan juga bekerja dengan baik. Sebaliknya, dengan pikiran negatif, hidup menjadi pesimis, stres dan tidak bergairah. Maka, imunitas tubuh turun drastis karena terjadi implus saraf otak ke seluruh tubuh. Terasa nyeri diberbagai bagian tubuh, kolesterol,  hipertensi, jantung, ginjal, insomnia atau sulit tidur, pencernaan terganggu, dan stroke mengancam orang yang pikirannya pesimis atau tertekan.

Oleh karenanya, Islam sebagai agama rahmatan lil alamiin, mengajarkan sudut dan cara pandang positif yang kita kenal dengan husnuddhan. Husnuddhan kepada Allah SWT dan kepada semua makhluk-Nya merupakan kunci kebahagiaan. Ayat pertama yang dibaca Bismillahirrahmanirrahim, dengan sebab Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, semua yang telah ada, sedang ada dan akan ada, itu ada. Landasan berpikir bahwa semua kejadian karena kasih sayang-Nya, akan membuat pikiran kita selalu positif menghadapi setiap peristiwa.

Berpikir positif kepada semua makhluk Allah juga melahirkan kemesraan, keakraban, kepercayaan, kehangatan dan pasti berujung kepada kebahagian hidup. Pikiran positif tidak hanya terhadap kehidupan di dunia tapi juga terhadap kehidupan akhirat. Didalam kitab Ihya' Ulumiddin Juz 4, Al-Imam Al Ghazali memuat sebuah kisah bahwa ada dua orang hamba yang ketika hidup di dunia melakukan ibadah yang sama, akan tetapi mendapatkan balasan kehidupan yang tidak sama diakhirat. Maka seorang yang lebih tidak beruntung itu protes kepada Allah SWT, "Wahai Tuhan, di dunia saya dan si fulan melakukan ibadah yang sama. Kenapa Engkau melebihkan dia atas diriku disini?". Maka Allah SWT menjawab, "Ya, karena si fulan berprasangka baik kepadaku bahwa aku akan memasukkannya ke surga, maka dia selalu meminta derajat yang tinggi di surga. Sedangkan kamu, berprasangka buruk kepadaku bahwa aku akan memasukkanmu ke neraka sehingga yang kamu minta selalu diselamatkan dari neraka. Maka kini, aku cukup menyelamatkanmu dari neraka" (hal. 153).

 

Berpikir positif untuk urusan dunia dan akhirat merupakan ajaran Islam yang harus kita pegang teguh dalam semua keadaan. Karena itu kunci kebahagiaan.

Menghadapi pandemi covid-19, jangan terlalu terbawa dan termakan oleh informasi dari media,  karena kita akan kehilangan pikiran positif yang merupakan modal penting untuk menjaga kesehatan. Meskipun sangat penting, berpikir positif itu gratis. Tergantung kita mau mempergunakan atau tidak.

Apabila ada yang bilang, dalam masa pandemi kita tidak boleh memakai pola pikir husnuddhan. Kita harus memakai pola pikir su'uddhan. Semua orang kita tempatkan sebagai odp atau otg. Saya kira, ini pernyataan yang menyesatkan. Justru sebaliknya, di masa pandemi ini kita harus mempertahankan pandangan dasar Islam tersebut agar imun tubuh kita meningkat. Allah SWT menjamin, "Aku mengikuti prasangka hambaKu terhadap diriKu dan Aku ada bersamanya ketika dia mengingatKu" (muttafaq alaih).

 

Semua berita tentang covid-19 pasti berisi tentang betapa bahayanya, jumlah korban yang terus bertambah, dst. Itu wajar, karena tugasnya memang memberitakan tentang bahayanya dan jumlah korban tersebut. Maka isinya ya itu. Sementara tentang kehidupan nyata masyarakat yang normal dan tetap sehat meskipun sedang pandemi, tidak diberitakan, meskipun lebih buanyak.

 

Berarti anda tidak percaya kepada kebenaran sains? Nanti dulu, sains yang mana?

Kita lanjutkan besok. Ngopi dulu.

 

#berpikirpositif

#semutkhitthahnu

<halaman sebelumnya

 

Editor: Fahmi Faal Akbar