Kita Hidupkan Pikiran Positif (2)

Madu 2020-06-28 Ahmad Muzzammil


Kita Hidupkan Pikiran Positif (2)

Alhamdulillah, mukaddimah pendek tulisan ini di facebook telah mendapatkan apresiasi beragam dari berbagai pihak, mulai dari apresiasi positif dengan memberikan tanda like, sekedar membaca, kritis dengan mempertanyakan, tidak setuju,  bahkan ada yang marah berlebihan berhari-hari sehingga terus menekan seakan-akan tulisan saya ini penuh kesalahan yang harus ditarik.

Ada yang mengatakan supaya saya ikut menjadi team medis merawat pasien corona. Lho, memangnya saya siapa. Saya ini bukan perawat, lagian untuk apa, wong perawat sudah banyak.

Ada yang bilang bahwa saya termasuk mempertentangkan sains dengan agama. Bahkan memvonis paham keagamaan saya ini bermasalah, penuh something wrong. Silahkan saja semua penilaian itu. Itu hak sampeyan. Tapi setahu saya, saya tidak termasuk golongan tersebut. Wong saya itu di pondok membaca kitab tafsir Al-Jawahir,  karya Sayyid Thanthawi Jauhari, sebuah tafsir dengan kacamata sain yang kuat. Sejak lama saya sampaikan di mana-mana bahwa pengetahun alam itu bagian dari   pengetahuan agama karena mempelajari sunnatullah yang juga merupakan ayat Allah swt.

Apabila paham keagamaan saya disebut penuh something wrong, saya sungguh mengucapkan terima kasih atas penegasan ini karena saya akui bahwa diri saya ini penuh salah dan dosa. Saya tidak membantah 1000%.

Dengan menagajak tidak takut kepada covid-19 dan berpikiran positif, saya juga divonis sombong karena belum terkena covid-19. Saya juga berterima kasih telah mengingatkan kesombongan saya karena saya setiap saat selalu berdoa kepada Allah swt agar membersihkan hati saya dari semua sifat yang tidak diridlai Allah swt. Tolong doakan saya.

Menurut yang saya pahami, hidup atau mati, sehat atau sakit, mudah atau sulit, bukan suatu kewajiban atau keharusan, tapi suatu kemungkinan. Maaf saya perlu menyampaikan hukum akal yang biasa diajarkan ketika mempelajari akidah. Hukum akal itu ada 3, yaitu Wajib, mustahil dan jaiz.

Wajib adalah sesuatu yang pasti adanya atau tidak mungkin tidak adanya,  seperti adanya pencipta bagi alam raya ini. Gusti Allah disebut wajib al-wujud,  artinya pasti adanya. Mustahil adalah sesuatu yang tidak mungkin adanya sepertinya berkumpulnya dua hal yang berlawanan dalam satu waktu seperti sakit dan sehat. Seseorang yang sehat berarti tidak sakit dan seseorang yang sakit berarti tidak sehat. Kalau ada orang disebutkan sakit dan sehat sekaligus dalam waktu bersamaan, itu mustahil adanya. Akal tidak bisa mempercayainya. Sedangkan jaiz adalah sesuatu yang mungkin adanya, juga tidak adanya.

Hidup dan sehat bagi manusia tidak wajib dan juga tidak mustahil, tapi jaiz. Jika saat ini seseorang hidup atau sehat, bukan berarti sesaat lagi dia pasti hidup dan pasti sehat, juga tidak mustahil hidup atau sehat. Dalam setiap saat manusia  berada dalam hukum jaiz atau kemungkinan antara hidup atau mati, sehat atau sakit, susah atau senang dan seterusnya. Oleh karenanya, Islam memberikan tuntunan menghadapi kedua-duanya. Kalau hidup agar bagaimana, kalau mati bagaimana,  kalau sakit agar bagaimana, begitupun ketika sehat, senang, susah, punya uang, tidak punya uang, dan seterusnya...

Intinya manusia tidak boleh sombong atas kehidupan, kesehatan, kesenangan yang dialaminya karena hal tersebut hanyalah merupakan salah satu kemungkinan dari dua kemungkinan. Namun harus bisa dan berusaha benar menghadapi segala kemungkinan. Oleh karenanya saya ucapkan terima kasih atas penegasan kesombongan saya karena itu suatu pepeling yang sangat berharga bagi saya.

Tulisan saya ini tidak harus disetujui. Hanya saja kepada pihak yang marah, daripada marah-marah, hapus saja tulisan tersebut. Gak ada keharusan sedikitpun untuk sependapat dengan saya. Kalau gak cocok, anggap saja tulisan saya ini tidak ada. Atau silahkan membuat tulisan sendiri sesuai persepsinya.

Tapi ya jangan melarang saya untuk berpendapat. Ini hak saya yang akan saya perjuangkan sampai kapan pun. Kalau saya berpendapat bahwa penyampaian pemerintah selama ini tentang bahaya covid 19 bisa berdampak ketakutan yang berlebihan sehingga bisa kontra produktif dengan tujuan agar masyarakat menjadi sehat dan selamat dari covid, sehingga saya perlu menyampaikan pendapat dan tulisan ini, itu hak saya. Siapa pun bisa punya persepsi yang berbeda, yang penting punya alasan yang bisa dipertanggung jawabkan dan bertujuan baik.

Jangankan mengenai hal tersebut, misalnya ada si paijo sholat di Masjid, itu persepsi orang bisa berbeda-beda ; positif, kriitis atau negatif. Tinggal paijonya mau dewasa dengan berbagai persepsi tersebut atau kah kekanak-kanakan.

Eeeh, maaf kok jadi serius banget ya. Dan sepertinya sudah terlalu panjang lagi. Maaf saya akhiri dulu. Besok saya sambung lagi. Ini belum sampai ke inti. Silahkan ngopi atau es. Gak usah sepaneng dan maaf kepada yang marah kepada tulisan ini. Semoga tidak menambah parah.

Shollu ‘alanNabiii Muhammad.

#berpikirpositif #janganmarah

<halaman sebelumnya

halaman selanjutnya >