Dengan Tawassuth NU Takkan Jadi Keledai (Gak Bisa Dibohongi dan Diadu, bagian 3)

Madu 2019-08-01 Ahmad Muzzammil


Dengan Tawassuth, NU Takkan Jadi Keledai (Gak Bisa Dibohongi dan Diadu, bagian 3)

ahmad muzzammil

Ada pepatah terkenal, "hanya keledai yang jatuh dua kali ke lubang yang sama". Itu suatu ungkapan agar manusia, tidak seperti keledai, dalam arti mau mengambil pelajaran dari setiap kejadian. Jangan jatuh ke lubang yang sama dua kali, apalagi berkali-kali.

Rasulullah saw sesuai riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah RA bersabda, "Seorang mu'min tidak akan _dicokot_ ular dua kali dari lubang yang sama". Sabda ini beliau lontarkan kepada seorang penyair kafir Quraisy bernama Abu 'Azzah Al-Juhami. Dia ini ikut pasukan perang badar dari pihak kafir Quraisy dan menjadi tawanan perang kaum muslimin. Suatu ketika dengan kepandaian bicara dan kelicikannya dia bisa mendapatkan kebebasan. Kondisi ekonomi dan tanggung jawab atas keluarganya, dia jadikan alasan utama merayu Rasulullah saw. Nabi pun mengabulkan permintaannya.

Ternyata, setelah bebas dan berkumpul dengan kafir Quraisy di Makkah, dengan kemampuan sastranya, dia banyak membuat "status" dan "meme" yang memberikan inspirasi permusuhan dan perlawanan terhadap ummat Islam.

_Dilalah,_ Abu 'azzah Al-Juhami ini tertawan kembali pada perang _hamra' al asad_. Dia mencoba mengulangi kembali kelicikannya mempengaruhi Nabi Saw agar bisa bebas dengan dalih beban anak-anak dan isterinya, maka Beliau bersabda, _*"seorang mukmin tidak akan digigit oleh ular yang keluar dari lubang sama dua kali*"_. Abu 'Azzah pun gigit jari.

Apabila kisah ini kita tarik ke NU, bahwa meminjam istilah KH. Achmad Siddiq, NU ibarat kereta api: jalannya jelas dan tujuannya juga jelas. Penumpang tidak bisa mengatur jalan dan tujuan kereta, hanya bisa naik dan turun pada stasiun yang dilewati menyesuaikan dengan rute dan stasiun tujuan kereta. NU bukan mobil taxi yang bisa diatur kemana arah, jalur dan tujuannya sesuai kehendak penumpang yang menyewa atau membayarnya. Begitulah NU relnya jelas dan tujuannya juga jelas.

Akan tetapi, NU tidak sama persis dengan kereta api. Para masinis NU bisa saja membawa gerbong keluar rel, apabila dasar-dasar ke-NU-an tidak dipegang dengan kuat. Salah satunya sikap _tawassuth_. Tarikan para pemilik modal dan pemegang kekuasaan, bisa saja begitu besar magnetnya, sehingga para masinis lemah dan bahkan mengalami goncangan.

Suatu misal pada kejadian saat ini, dimana Rais Aam PBNU tiba-tiba mau menerima tawaran menjadi cawapres ditengah perjalanan pengabdiannya sebagai Rais Aam yang mesti dijalankannya selama 5 tahun. Tak bisa dihindari, NU berikut banom-banomnya terbawa tarikan politik praktis yang semestinya tidak dilalui, sesuai dengan khittah atau jati dirinya sendiri dan keputusan muktamar NU ke 27 Tahun 1984 di Situbondo yang secara organisatoris belum dibatalkan. Dan seperti yang kita maklumi bersama, perpolitikan kita saat ini semakin machiavelian, tak penting benar, yang penting bisa menang, apapun halal dilakukan. Tak ketinggalan, banyak kader NU terbawa oleh ritme politik, bergeser titik fokusnya kepada "memenangkan" bukan pada penegakan moralitas kampanye dan berkontestasi sesuai ajaran Islam dan undang-undang.

Alasan bahwa berpolitik merupakan hak setiap warga negara yang dilindungi oleh hukum sebenarnya tidak bisa digunakan oleh para masinis NU, karena politik praktis memang bukan rel NU. Dampaknya jelas, yaitu para masinis keluar dari titik _tawassuth_ menjadi _tatharruf_ alias berlebihan dalam mendukung salah satu peserta kontestasi demokrasi. Akibat langsungnya, NU pecah _ukhuwwah_ dengan sesama ummat Islam yang berbeda pilihan. Berbeda pilihan, aslinya natural dan biasa di alam demokrasi. Tapi karena NU merasa punya jago, maka sikapnya jadi berbeda. Perbedaan menjadi media pertarungan politik yang saling melukai. Banyak kader NU lebih berpenampilan kader partai politik daripada kader organisasi yang bersifat agama selama kampanye kemarin. Ini bisa berkepanjangan, apabila kemarin untuk "memenangkan", dan setelah ini bisa terulang lagi dalam rangka "mempertahankan".

NU sebagai organisasi yang bersifat agama _(jam'iyyah diniyyah)_ mestinya mendahulukan kepentingan mempertahankan ajaran agama daripada kepentingan sesaat. Persaudaraan sesama muslim tidak boleh dikorbankan begitu saja karena NU sendiri telah memutuskan untuk menjaga _Tri Ukhuwwah_ dalam perjalanan pengabdiannya. Persaudaraan sesama ummat Islam merupakan titipan suci dari Rasulullah saw. Beliau berpesan, "seorang muslim adalah saudara dengan sesama muslim, tidak boleh mendhaliminya, mengkhianatinya, membohonginya, merendahkan dan menghinanya" (Bukhari dan Muslim). Tapi semuanya sudah terlanjur terjadi selama kampanye kemarin bahkan dampaknya masih akan berlangsung lama. "Semua ummat Islam bagaikan satu tubuh... ". Hadits ini juga semakin sulit dengan situasi seperti sekarang.

Kita tahu, sesuai _qanun asasi_ dan khittahnya, NU tidak didirikan untuk tujuan _izzul NU wa al nahdliyyin,_ tetapi _izzul Islam wal muslimin._ Akan tetapi ditangan para politisi, arah ini mulai dikaburkan, terkalahkan oleh janji-janji manis para politisi yang ingin menggaet suara _nahdliyyin._ Kalau tidak segera diatasi, lambat laun NU digeser untuk menjadi alat kuasa atas pihak lain, bukan alat melayani kepentingan seluruh ummat Islam dan seluruh ummat manusia.

Sikap _tawassuth_ yang diwarisi NU dari Wali Sanga tidak hanya hilang ketika berhadapan dengan pihak lain diluar NU , tapi terhadap sesama nahdliyyinpun juga bisa. Hanya karena beda pilihan politik, bahkan sampai ada salah seorang masinis tingkat wilayah yang berkata bahwa warga NU yang tidak memilih si A adalah warga NU yang goblok... Bahkan katanya ada kata-kata bukan warga NU atau silahkan keluar dari NU... dst. Pernyataan-pernyataan seperti ini dan sejenis jelas keluar rel. Tampak jelas mengabaikan karakter _tasamuh_ dalam perbedaan ala walisanga yang selama ini diperjuangkan NU. Sikap bersatu dalam hal-hal yang disepakati dan saling menghormati dalam hal-hal yang berbeda, tidak bisa dijaga.

Sikap-sikap seperti diatas menunjukkan bahwa NU menjadi "korban" kepentingan politik praktis. Keluar rel dan lupa tujuan. Kehilangan orientasi dan titik fokus. Tugas menjaga moralitas bangsa kalah oleh kepentingan memenangkan calon.

Oleh karenanya, sebagai organisasi keagamaan terbesar kita berharap NU menjadi garda terdepan menjaga tegaknya moralitas dalam kontestasi tingkat apapun. Kini bangsa ini tersandera oleh _money politik._ Kepentingan jangka panjang negara dan warganya terancam. Parpol telah banyak melakukan hal-hal _destruktif_ terhadap negara ini, maka jangan kita ikuti langkahnya. _Rahmatan lil alamiin_ jangan kita biarkan jauh panggang dari api.

Semua peristiwa dan fakta yang telah terjadi mari kita kita jadikan pelajaran. Tidak boleh terulang untuk yang kesekian kalinya. Semoga?!.