Gus Dur dan Kiai As'ad Syamsul Arifin

Madu 2019-06-28 Ahmad Muzzammil


Salah satu point yang disinggung oleh mBah Maimoen Zubair dalam silaturrahim SKhNU, adalah tentang hubungan Gus Dur dengan Kiai As'ad Syamsul Arifin (Allah yarhamuhuma wa yumidduna min ulumihima wa karaamatihim). Hal itu bermula dari pertanyaan mBah Maimoen tentang latar belakang pendidikan saya. Saya jawab bahwa saya adalah santri dari Kiai As'ad, lulusan Ma'had Ali angkatan pertama. 

Dari jawaban tersebut, beliau jadi teringat beberapa hal, diantaranya:

1. Bahwa pendiri Ma'had Ali pertama di Indonesia adalah Kiai As'ad bersama sejumlah Kiai NU. Saya pun mengingatkan beliau, bahwa memulai kuliah perdana di Ma'had Ali kala itu, diadakan acara studium general dengan nara sumber mBah Maimoen sendiri dan KH. Khotib Umar dari Jember (alm).  Alhamdulillah beliau sangat ingat dan berlanjut menceritakan kedekatannya dengan Kiai As'ad Syamsul Arifin.

2. Beliau menjadi pendukung Kiai As'ad mengenai kembalinya NU ke khittah 1926-nya, juga peneriamaan Azas Pancasila.

3. Beliau menceritakan bahwa yang mengangkat Gus Dur sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU adalah Kiai As'ad. 

Terkait informasi nomor 3 mungkin banyak khalayak yang belum tahu. Alhamdulillah mBah Maimoen menyampaikan dalam pertemuan  bersama 80-an anggota Semut-Semut Khittah NU, sehingga jejak sejarah ini tidak hilang dan sampai kepada generasi berikutnya. 

Perlu diketahui bahwa pada muktamar NU ke-27 di Asembagus Situbondo, sistem pemilihan pengurus memakai sistem ahlul hall wal aqdi, disingkat AHWA yang secara literluk bisa diartikan dengan "orang-orang yang memiliki keahlian atau kapasitas untuk melepas dan mengikat (memberhentikan dan mengangkat)". KHR. As'ad Syamsul Arifin diposisikan sebagai Ketua AHWA sehingga menjadi penentu utama siapa ketua umum dan siapa Ra'is 'Am PBNU periode 1984-1989 M.  Dan memang Kiai As'ad-lah yang berinisiatif menampilkan Gus Dur sebagai Ketua Umum dengan pertimbangan utama petunjuk langit di satu sisi dan kepentingan aktualisasi cita-cita pendirian NU, disisi lain.

Kisah ini penting kita ketahui bukan sekedar sebagai pengetahuan, tapi sebagai pesan dan pelajaran. Pada suatu kesempatan Kiai As'ad menyampaikan bahwa memilih Gus Dur merupakan isyarat atau petunjuk langit terhadap NU. Dengan demikian bisa kita ketahui bahwa para ulama' selalu menyesuaikan pilihannya kepada kehendak Allah swt, bahkan hal ini menjadi yang utama sebelum pertimbangan bumi. Pola komunikasi bumi-langit, langit - bumi selalu dijaga dalam melestarikan NU sebagai organisasi yang bersifat keagamaan. Setiap langkah NU tidak hanya harus dipertanggungjawabkan secara hukum legal formal negara, legal formal fiqh, akan tetapi secara moral-spiritual. Karena NU bukan tujuan, tapi jalan bersama warga dan para pemegang amanahnya menuju Allah swt. 

Pelajaran lain yang bisa kita ambil, bahwa para sesepuh NU tidak punya kepentingan pribadi, tapi punya visi besar kedepan sehingga diperlukan nakhoda dari kalangan muda yang  visioner,  meskipun tetap perlu didampingi oleh Kiai Tradisional, tapi dengan wawasan luas dan visioner pula, yakni KH. Achamd Siddiq (Allah yarhamuh). 

Rumusan muktamar NU ke 27 Tahun 1984 di Situbondo, kembalinya NU ke Khittah 1926 dan penerimaan azaz tunggal pancasila serta berbagai keputusan keagamaan lainnya memang luar biasa, tapi tanpa pemangku amanah yang handal secara spiritual, intelektual dan sosial, keputusan itu hanyalah akan menjadi isapan jempol belaka, kalau tidak kandas ditengah jalan.