Kehangatan mBah Maimun Zubair

Madu 2019-06-24 Ahmad Muzzammil


Sekitar pukul 11 kurang 15 menit, para Semut Khittah NU telah berdatangan di Jalan Raya depan Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang. Satu-persatu kendaraan yang ditumpangi diparkir sepanjang jalan pantura sekitar pondok. Kedatangan lebih lambat dari yang direncanakan: pukul 10.00 wib. 

Salah seorang anggota Semut Khittah NU, Gus Zainal Mumajjad mencoba menghubungi saudaranya yang menjadi khadim di ndalem mBah Maimun via phone. Begitu juga Mas Ramadhan, semut asal Tuban. Setelah dirunding, karena waktunya mepet dengan jum'atan, diputuskan sowan setelah shalat jum'at saja, meskipun tidak ada jaminan bisa ketemu karena biasanya beliau menemui tamu di pagi hari. Tapi gak apa-apa lah, kita coba. Maka saya melakukan doa khusus untuk hal ini. 

Rombongan semut yang memang berasal dari berbagai kota, ada yang semalaman tidak tidur, memanfaatkan waktu untuk ngopi bareng di warung-warung sekitar pondok, di pinggir jalan pantura yang super sibuk tersebut. Ngobrol ngalor-ngidul sambil menenangkan pikiran karena ada juga diantara mereka yang belum pernah sowan Kiai, apalagi sekaliber mBah Maimun yang disepuhkan di Indonesia. 

Setelah selesai shalat jum'at, kita langsung bergerak menyemut di halaman ndalem mBah Maimun. Ternyata beliau belum kundur dari Masjid. Setelah menunggu lesehan sekitar 15 menit, alhamdulillah Beliau kundur bersama dua orang santri. Pintu ndalem dibuka, beliau mengambil tempat di kursi panjang yang biasa di duduki oleh beliau, lalu kami dipersilahkan masuk semua secara satu-persatu. Semua semut beriringan dengan tertib melakukan sungkem kepada beliau, kemudian duduk di kursi memenuhi ruang tamu dan sebagian duduk di luar karena gak kebagian tempat. 

Memulai pembicaraan, Beliau bertanya tentang kami yang menyemut ini. "Siapa anda semua ini?", tanya beliau. Maka saya menjawab bahwa kami sekumpulan pemuda yang berasal dari berbagai kota. Beliau seakan tidak percaya.

"Kok bisa, bagaimana caranya bertemu?", tanya Beliau lagi.

"Ya kami janjian berkumpul di satu tempat mBah"

"Dimana?"

"Kumpul di Tuban mBah".

"Oh...", kata Beliau.

Lalu kami menjelaskan bahwa kami ini para pemuda nahdliyyin yang sering melingkar melakukan diskusi dan tukar pikiran mengebai khittah NU dengan panduan buku Khittah Nahdliyyah karya KH. Achamad Siddiq sebagai pancernya. Kami ingin khittah NU menjadi perilaku nyata sebagai cara berpikir, bertindak dan bersikap warga NU.

"Kalau begitu, anda ini anshor NU yang disingkat ANU, bukan GP Anshor", kata Beliau.

Saya paham maksud beliau, yakni bahwa kata anshor itu artinya para pembantu atau penolong. Jadi siapapun pemuda nahdliyyin yang memikirkan nasib NU dan warga NU berarti anshor NU meskipun tidak masuk organisasi formal seperti GP Anshor, Fatayat, IPNU dan IPPNU.  Itu saya kira yang dimaksud oleh Beliau. 

Beliau menyambut kami yang masih muda dan penuh dosa ini dengan begitu hangatnya. Benar - benar seperti orang tua dengan anaknya. Saking hangatnya waktu 2 jam lebih tidak terasa. Sampai ada 5 kali putaran pembagian aneka snack. Kami terlibat dalam sebuah pembicaraan lintas generasi, tapi akrab penuh arti dan dialogis dua arah, tidak monolog satu arah. Beliau tampak sangat bergembira dan bangga ada anak-anak muda yang secara tulus tanpa target politik, ekonomi dan lain-lain memperjuangkan khittah NU sebagai landasan berpikir. 

Ada beberapa point yang bisa kami catat dari pembicaraan hangat tersebut.

Pertama, Beliau menekankan bahwa pemuda punya peran strategis dalam perjuangan Islam dan Indonesia. Merujuk kepada Hadits Nabi Muhammad saw "syubnanuna al yaum rijaluna al ghad (pemuda kita hari ini adalah para pemimpin kita esok). Hal ini dibuktikan dengan sumpah pemuda yang menjadi faktor penting kemerdekaan Bangsa Indonesia. 

Kedua, selanjutnya sebagai orang yang sudah sepuh, beliau menyerahkan kepda para pemuda, NU itu mau dibesarkan atau dikecilkan. "Karena sekarang ada kiai yang berkata bahwa kalau tidak memilih partai A berarti bukan NU, padahal perolehan partai tersebut hanya sekitar  12%. Nah kalau logika seperti itu yang dipakai, berarti warga NU ya hanya 12 % itu.  Maka saya terserah kepada yang muda-muda , apakah NU mau dikecilkan (12%, red) ataukah dibesarkan sesuai dengan data yang ada sekitar  60% lebih? ", tanya Beliau.

Maka kami menjawab, "itulah yang menjadi keprihatinan kami dengan mencoba memperjuangkan NU dengan tegak diatas khittahnya, agar NU bisa menjadi payung besar, bukan hanya bagi warga NU yang 60%, tapi bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebab, kalau meninggalkan khittah, NU akan menjadi kecil, jangankan bisa rahmatan lil alamiin, rahmatan linnahdlyiyyiin saja tidak akan bisa. 

Ketiga, Beliau menekankan pentingnya meneladani pola pikir dan sikap Simbah KH. Wahhab Chasbullah: nasionalis-religius atau religius-nasionalis.

Keempat, Beliau menekankan pentingnya ummat Islam bersatu agar bisa maksimal kemaslahatannya bagi kaum muslimin, bangsa dan negara. Karena dengan tidak bersatunya ummat Islam, kini kekuatan ekonomi dikuasai pihak lain. 

Untuk itu semua, beliau juga mengingatkan kepada sosok kekasih kita semua: Kanjeng Nabi Muhammad Saw. yang memerdekakan bangsa Arab dari penjajahan. (Bersambung)