Sekelumit Perjalanan Cinta Semut Khittah NU

Madu 2019-06-23 Ahmad Muzzammil


Setelah mengikuti tradisi idul Fitri bersama keluarga, kerabat dan sahabat terdekat di kampungnya sendiri-sendiri,  sebagian semut khittah NU yang berasal dari berbagai kota: Yogyakarta, Solo, Sragen, Boyololali, Nganjuk, Kediri, Jombang, Mojokerto, Sidoarjo, Surabaya, Pasuruan, Gresik, Lamongan, Tuban, Blora, Rembang, Kudus, Semarang,Bangkalan, Banjarmasin dan lain-lain,  pada Hari Jum'at Tanggal 21 Juni 2019 yang lalu bersilaturahim kepada Sesepuh Nusantra .

Tidak tanggung-tanggung, Sesepuh yang disowani adalah Kanjeng Sunan Bonang Tuban,  Bah Maimun Zubair Sarang dan Gus Mus Rembang. Yang telah sumare di alam barzakh dan yang masih di alam dunia, bagi kami sama, sama-sama hidup hanyalah tempatnya yang berbeda. Oleh karenanya kami sowani,  meskipun dengan cara yang berbeda sesuai dengan alamnya.

Titik kumpul dari sekitar 80an semut dari berbagai kota tersebut adalah kota Tuban. Ada yang tiba jam 03 dini hari, jam 04, jam 05 dan rombongan terakhir yaitu kami sendiri yang berangkat dari ndalemny Gus Irul Gresik, tiba jam 08.00 pagi. Sedangkan semut dari Bangkalan langsung menuju Sarang karena terlambat. 

Sunan Bonang kita jadikan titik tolak karena beliaulah salah satu icon perjuangan semut khittah dalam upaya mendorong Nahdlatul Ulama' kembali dan berdiri tegak diatas khittahnya. Sebagaimana kita ketahui, bahwa cita rasa Islam di Bumi Indonesia ini adalah Islam yang telah menikah dengan budaya Nusantara. Yang menjadi penghulu pernikahannya adalah Kanjeng Sunan Kalijaga, yang tak lain dan tak bukan adalah murid dari Kanjeng Sunan Bonang. Kanjeng Sunan Bonang sebagai penyebar bibit-bibit Cinta ala tasawwufnya Rumi dan Rabi'ah al adawiyyah sehingga langkah dakwahnya berbalut Cinta dan kasih sayang. Bibit bibit tersebut ditangkap oleh  kependekaran Kanjeng Sunan Kalijaga dalam bidang budaya sehingga terlaksanalah pernikahan antara Islam dan budaya Nusantara, Jawa pada khususnya. 

Tepat jam 08.30 para semut khittah NU telah siap sowan kepada beliau. Semua duduk bersila di sisi selatan pusara Kanjeng Sunan, sambil komat kamit membacakan surat al fatihah dan surat al ikhlash. Dan anugerah Allah swt tiba, di tengah komat kamit tersebut, juru kunci makam, Gus Nawi, membukakan pintu cungkup makam yang sehari-harinya tertutup untuk umum. Ternyata kami semua dipersilahkan masuk cungkup sehingga bisa melihat langsung pusara Kanjeng Sunan. Suatu anugerah bagi para semut yang telah bertekad bulat berjuang tanpa pamrih tak akan  mengenal takut dan lelah agar khitah NU benar-benar menjadi cara berpikir, bertindak dan bersikap warga NU baik secara organisasi maupun dalam kehidupan perorangan. 

 

Masuklah semut semut khittah NU secara satu persatu bagaikan semut sungguhan( padahal jadi-jadian, hehe) sambil komat kamit baca kulhu. Dan karena tempatnya tidak cukup, maka semua semut tidak duduk bersila, tapi berdiri melingkari pusara Kanjeng Sunan. Pembacaan kulhu semakin kuat dan nyawiji dengan sukma, perlahan lahan bacaan mengalir kepada  al falaq al nas, ayat kursi dan berlabuh memasuki pintu ke alam malakut guna bertatap wajah dan hati  dengan Kanjeng Sunan melalui kalimat tauhid Laa ilaaha Illallah, Laal ilaha illallah,,,    ,semua semut semakain tidak menyadari apa dan siapa yang ada di di sekelilingnya,  di alam almulk wa al syahadah. Kanjeng Sunan menerima dengan senyumnya  sebagai tanda ke ridla an dengan ridla Tuhan atas lahirnya generasi muda NU yang nanti oleh Bah Maimun disebut dengan Anshor Nahdlatul Ulama', bukan GP Ansor. (Bersambung). 

 

#semutsemutkhittahnu

#anshornahdlatululama'

#ANU

#skhnu.com