Islam Kita dan NKRI Harga Mati (2)

Madu 2019-05-04 Ahmad Muzzammil


Berbeda dan menyalahkan apalagi menyerang pihak lain yang berbeda, itu beda. Berbeda itu keniscayaan sedangkan menyalahkan merupakan akhlak buruk yang disebabkan oleh banyak hal. Menyalahkan itu output negatif dari sekian kemungkinan input. Biasanya ada tali temali antara sempitnya pemahaman dan masuknya kepentingan sesat sesaat seperti kekuasaan politik dan ekonomi. Bagi politikus dan kapitalis, apapun bisa "dipakai" untuk mencapai tujuan, termasuk celah perbedaaan tafsir atau paham keagamaan. Perbedaan paham yang dilembagakan kepada identitas sosial dan budaya, apalagi. Jargon Islam moderat versus radikal, konservatif vs liberal, kanan dan kiri, juga Islam Nusantara, Islam Arab, Islam Eropa, tak lepas dari kepentingan kuasa.

Kehadiran wahhabisme ditengah-tengah kita yang menyerang berbagai bentuk pendekatan dan penerapan Islam sesuai konteks budaya kita dengan labelisasi bid'ah,kafir dan syirik,, juga sarat kepentingan politik dan ekonomi, baik dari negara asal wahhabisme, maupun pemain dibalik layar yang menguasi kekuatan global dunia saat ini.

Kita semua tidak terima diserang dengan berbagai stigma negatif melalui berbagai cara dan media. Tentu saja demikian. Secara naluriyah, adanya reaksi terhadap suatu aksi, bisa diterima. Dan itulah yang menjadi pembenar dari dilakukannya reaksi berupa konsolidasi ormas keagamaan seperti sosialisasi dan penguatan paham keagamaan, pemantapan ideologi organisasi, pelatihan dan pembekalan kader, sampai penambahan kekuatan semi militer, dst.

Kita sudah melawan wahhabisme, juga gerakan Islam transnasional yang ingin mengganti ideologi negara. Sekarang kita face to face dan head to head dengan gerakan-gerakan Islam tersebut. Tinggal tunggu komando. Pertanyaan nya, "pertempuran" ( dalam tanda petik) akan kita arahkan kemana? Kepada "apa" ataukah kepada "siapa"? Jangan-jangan yang kita sasar sekedar ujung jari, bukan penggerak jarinya sendiri.

Ngopi dulu?! 
#semutkhittahnu
#skhnu.com