Mempertahankan Khittah NU

Madu 2019-05-17 Ahmad Muzzammil


Sudah beberapa kali saya menyampaikan bahwa didalam politik praktis atau politik kekuasaan itu yang paling penting adalah menang. Oleh karenanya apapun dilakukan yang penting menang. Menang menjadi nilai sendiri, artinya menang berarti benar dan kalah berarti salah.

Sedangkan Nahdlatul Ulama' merupakan organisasi keagamaan yang bertugas menyebarkan dan menghidupakan ajaran agama melalui pendidikan dan dakwah islamiyah. Dalam agama, benar itu ya benar, salah itu salah, tidak kaitannya dengan menang atau kalah. Kebenaran memiliki dasarnya sendiri. oleh karenanya NU tidak boleh berpolitik praktis karena akan mengabaikan tugas utamanya diatas. Ketika NU diabawa masuk menajdi pendukung salah satu peserta perebutan kekuasaan, maka NU akan terseret kepada filosofi menang-menangan, menang kalah, bukan benar salah. Kepentingan mendapatkan kemenangan menjadi lebih utama daripada memastikan terlaksananya kebenaran, kejujuran dan keadilan. Cara pandangnya tertutupi oleh nafsu kuasa, maka akan terbawa selalu membela dan membenarkan pihak yang hendak dimenangkan dan sebaliknya selalu melihat pihak lawan dalam keburukan dan kesalahan.

Sikap dasar NU yang tawssuth i dan i'tidal i, yang berdiri ditengah dan tegak diatas kebenaran dan menegakkan keadilan akan runtuh dengan sendirinya, dengan keberpihakannya kepada salah satu calon. Diadalam buku khittah nahdliyyah disebutkan bahwa ciri utama NU adalah ciri diniyyah, yaitu selalu menyesuaikan pola pikir, sikap, tindakan dan policy nya dengan ajaran agama. Dan dihalaman 43 disebutkan bahwa termasuk yang merusak ciri keagamaan tersebut adalah :
1.sikap memihak yang berlebih-lebihan kepada seseorang atau kelompok orang, baik karena motif kekeluargaan atau kekuasaan atau motif lainnya, sehingga cenderung mencari dalih dan dalil untuk membenarkan sikap sendiri. Dst...

Saat ini Indonesia membutuhkan sikap seperti diatas, tidak memihak, berada ditengah dan bisa mengatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Kebenaran tidak boleh diapksakan atas dasar kekuatan kekuasaan suatu golongan atau kelompok. Mestinya itulah sikap NU. Akan tetapi karena NU melalui para elitnya (semoga ada yang tidak) sudah menjadi pendukung utama salah satu kelompok yang sedang berselisih, maka posisi ini sulit diwujudkan.

Nasi sudah jadi bubur. Saya berharap agar lahir generasi muda NU yang tidak terbonsai pikiran dan hatinya kepada pandangan sempit sesaat seperti itu. Ayoo lahirlah generasi muda NU yang bisa menentukan sikap sesuai dengan khittahnya NU. Bacalah buku khittah nahdliyyah.

Saya membuat wadah bernama semut semut khittah NU yang disingkat dengan SKhNU. Apabila tertarik silahkan baca skhnu.com. untuk mengenal sejarahnya baca kolom tentang. Mau bergabung, silahkan. Beberapa waktu yang lalu ada beberapa nama ( banyak yang terhapus) ,silahkan mendaftar ulang. 
Kita selamatkan Indonesia dari perpecahan ummat Islam.

(Ini penadapat pribadi saya, anda boleh setuju, boleh tidak. Kalau berbeda gak usah saling mencela. Saya siap ngopi bareng asalkan tidak al ngawuru, tapi dengan pancer " khittah nahdliyyah" ). 
#skhnu.com
Pantai Selatan, 17 Mei 2019/12 Ramadlan 1440.