Paham Salah Terhadap Shalah dan Shaleh

Madu 2021-01-26 Ahmad Muzammil


Amal shaleh merupakan unsur kedua yang paling penting bagi kita, setelah iman. Setiap ada kata iman, pasti sesudahnya ada amal shaleh atau taqwa.

Tapi sayang sungguh sayang, sebagian besar salah paham bahkan memiliki paham yang salah. Selalu dan selalu melangit kepada perbuatan yang sifatnya ritual: shalat formal, puasa formal, zakat formal, haji formal, membaca al qur'an formal, dst dst.

Sebagian besar lupa bahwa amal shaleh itu terdiri dari dua kata, yaitu amal dan shaleh. Amal itu artinya perbuatan atau pekerjaan, sedangkan shaleh itu artinya tepat yang bisa berdimensi benar, baik atau Indah dan mulia.

Dengan demikian, amal shaleh itu menyangkut semua hal yang kita kerjakan: apakah itu perbuatan ritual maupun sosial, bersifat individual atuapun komunal. Apabila masing masing dikerjakan dengan tepat (Ingat “TEPAT”, tolong pahami kata “TEPAT”), maka pekerjaan tersebut disebut amal shaleh. Dan jika tidak, maka bukan amal shaleh, apapun perbuatannya.

Shalat, puasa, zakat, haji, nyopir, mbecak, bertani, berdagang, nguli, mpolisi, njaksa, nghakim, mengacara, nentara, nglurah, men-dpr, mbupati, nggubernur, mresiden, jadi wapres, jadi menteri, dll merupakan amal perbuatan atau pekerjaan yang bisa dilakukan dengan tepat (benar, baik dan indah) yang akhirnya disebut amal shaleh. Tapi juga bisa sebaliknya, tidak menjadi amal shaleh.

Setiap pekerjaan punya ukuran ketepatannya sendiri-sendiri. Maka, untuk menjadi shaleh jangan salah kaprah. Anda semua, saat ini, pasti sedang melakukan sesuatu, apapun itu. Lalukanlah apa yang saat ini anda kerjakan itu dengan tepat, maka anda temasuk orang yang beramal shaleh. Dan anda menjadi bagian dari golongan shalihiin. Jika tidak, maka sebaliknya.

Presiden tak perlu ingin mahir baca kitab kuning dan memakai surban seperti wakil presiden, Kiai Ma'ruf Amin untuk menjadi orang shaleh, cukup dengan melakukan dan membuat kebijakan sesuai kewenangannya dengan / secara tegak lurus terhadap Pancasila dan UUD 1945. Dan Kiai Ma’ruf Amin  juga begitu, tak perlu membuka pengajian kitab kuning di kantor-kantor pemerintahan. Untuk menjadi orang shaleh, cukup dengan bekal kemapuan kitab kuningnya yang luar biasa itu, menjalankan tugas sebagai wapres dengan tepat. Seorang sopir, buruh, polisi, makelar,tentara dlsb.,tidak perlu pakai ukuran ketepatan seorang kiai, dan sebaliknya kiai juga jangan pakai ukuran ketepatan seorang makelar.

Tapi paham salah ini sudah begitu mendarah daging sehingga ummat Islam mengalami keterbelakangan dalam segala bidang karena belum bisa mengintegrasikan nilai agama dalam setiap perbuatannya. Dan secara tidak sadar, terjebak pada sekularisme, pemisahan amal dunia dan amal akhirat. Kemudian ada rentang yang jauh antara dirinya dengan Tuhan. Juga antara dunia dan akhirat. Akhirnya, dekat dengan Tuhan tidak. Bekerja secara tepat,juga tidak. Na'udzu billah.

Ngopi dulu?!

# semutkhitthahnu

#skhnu.com

#skhnu.id

Editor: Fahmi Faal Akbar