Berkah NU - Bagian 1 (Bagian-2)

Lingkar 2020-07-19 Nur Romadlon


Alhamdulillaah, kami lanjutkan kisah perjalanan para semut selama ngalap berkah kepada Simbah Sunan Bonang dan Romo Kiai Maimoen Zubair.

 

4. Bebas dari Tilangan Polisi

Selesai ziarah dan sowan kepada Simbah Sunan Bonang, saudara-saudara SKhNU bersiap untuk berangkat menuju kediaman Romo Kiai Maimoen Zubair di Sarang Rembang Jawa Tengah. Namun, kami yang dari Tuban berangkat paling akhir dengan harapan tidak ada saudara Semut yang tertinggal.

 

Mulai dari Tuban kami menuju Sarang dengan iringan mobil paling belakang. Begitu sampai daerah Bulu, mobil kami dihentikan polisi, karena alasan melanggar batas marka. Setelah berhenti sopir kami keluar dan diperiksa kelengkapan surat-surat yang diperlukan.

 

Akhirnya kami pun ikut turun dan keluar untuk mendampingi sang sopir yang sedang diproses tilang. Setelah kami keluar, tiba-tiba Pak Polisi bertanya, "Mau ke mana ini?". Kami jawab, “kami mau sowan Romo Kiai Maimoen Zubair”. Setelah kami jawab begitu, Pak Polisi membatalkan tilangannya dan ikut menitipkan salam kepada Romo Kiai Maimoen Zubair.

 

5. Romo Kiai Maimoen Menanyakan Polisi

Kami beserta saudara-saudara SKhNU sampai di Sarang menjelang shalat Jumat, dan setelah berkoordinasi dengan abdi ndalem, kami diperkenankan untuk bertemu Romo Kiai Maimoen selesai shalat Jumat.

 

Saat saudara-saudara SKhNU masuk di ndalem, Romo Kiai menyambut dengan hangat serta penuh kemesraan. Saudara-saudara SKhNU tidak ada yang diperkenankan untuk duduk di bawah, semuanya harus duduk di atas. Sampai-sampai yang di luar, karena tidak muat di dalam ndalem beliau, disediakan kursi-kursi untuk menyambut saudara-saudara SKhNU.

 

Hal yang diluar dugaan, tiba-tiba Romo Kiai menanyakan seorang polisi, "Sing polisi mau endi.. sing polisi mau endi?”(yang polisi tadi mana.. yang polisi tadi mana). Padahal kami belum menyampaikan salam dari Pak Polisi yang meloloskan kami, dan tidak jadi kena tilang.

 

Rencana setelah saudara-saudara SKhNU sudah duduk dan menempati posisi semua, baru kami sampaikan salam tersebut kepada beliau. Ini kami rasakan betul karomah dari Romo Kiai Maimoen Zubair dan kami semakin yakin, NU selalu dijaga oleh para wali-wali Allah SWT.

 

6. Sowan Selama Dua Jam Lebih dan Tiga Kali Pamit

Sejak awal diskusi sampai dengan akhir, perbincangan kami selalu cair dan terus mengalir. Mulai dari perkenalan, kenapa ada sebegini banyaknya pemuda bisa berkumpul, padahal dari banyak kota dan jauh-jauh lokasinya? Diskusi dengan isyarat-isyarat, di antaranya, persambungan nasab antara Kiai Muzzammil dengan Romo Kiai Maimoen dan air bengawan yang mengalir dari barat menuju timur dapat digunakan sebagai obat.

 

Dilanjut dengan diskusi pentingnya ummat Islam untuk bersatu dengan meneladani perjuangan Kanjeng Nabi Muhammad SAW dalam menyatukan jazirah Arab, organisasi NU, Khittah NU, Ansor NU (bukan GP Ansor), Sumpah Pemuda, kondisi negara, dan kenapa beliau saat pilihan Pilpres mendukung Kiai Ma'ruf Amin.

 

Diskusi tidak hanya berhenti sampai di situ, berlanjut dengan pentingnya nasionalis religius - religius nasionalis sebagaimana pola pikir dan sikap Simbah KH. Wahhab Chasbullah, sekaligus berlanjut pada diskusi-diskusi yang berkaitan dengan itu semua. Di tengah diskusi yang cair dan terus mengalir, abdi ndalem dengan instruksi dari Romo Kiai juga terus memutarkan biskuit, kurma, makanan-makanan ringan, dan minuman.

 

7. Sowan Pertama dan Terakhir Kalinya Semut-Semut Khittah NU

Romo Kiai Maimoen sangat bahagia dapat disowani oleh sedulur-sedulur SKhNU. Saking bahagianya, beliau sampai meneteskan air mata, dan berkata secara langsung; "ora usah menehi amplop lho yo, mundak aku ilang senengku” (tidak usah memberi amplop lho ya, nanti malah saya jadi hilang bahagiaku). Padahal saudara-saudara SKhNU sudah mempersiapkan semua, sebagai bentuk rasa syukur dan takdzim kepada Romo Kiai.

 

Menjelang akhir pertemuan, sebelum ditutup doa oleh beliau, Romo Kiai Maimoen menitipkan betul perjuangannya kepada generasi muda, agar bangsa Indonesia disegerakan menjadi bangsa yang 'baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur', bangsa yang religius dan nasionalis tidak berpisah, tapi bisa utuh. Bangsa penuh semangat nasionalis yang religius dan religius yang nasionalis.

 

Setidaknya dengan tujuh peristiwa tersebut, kami dapat merasakan secara langsung berkah dalam perjuangan NU. Harapan kami, semoga dengan perjuangan ini, kami beserta anak cucu diakui menjadi santri dari wali-wali Allah SWT yang telah turut serta menjaga NU. Aamiin..

 

Banyulangse, 17 Juli 2020

Editor: Fahmi Faal Akbar