Berkah NU - Bagian 1 (Bagian-1)

Lingkar 2020-07-18 Nur Romadlon


Setelah mengikuti tradisi Idul Fitri bersama sanak keluarga, kerabat dan sahabat terdekat di kampung halaman masing-masing, sebagai tindak lanjut silaturrahim Semut Khittah NU (SKhNU) tingkat nasional yang ke-2, maka pada hari Jumat tanggal 21 Juni 2019 memutuskan untuk berkumpul di maqbarah Simbah Sunan Bonang Tuban.

 

Perwakilan SKhNU berasal dari berbagai penjuru Nusantara. Diantaranya berasal dari Bangkalan, Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Lamongan, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Pasuruan, Kediri, Yogyakarta, Solo, Blora, Sragen, Boyololali, Rembang, Kudus, Semarang, Banjarmasin, dan Tuban sendiri sebagai tuan rumah serta titik kumpul.

 

Berkah adalah bertambahnya kebaikan dan terus bertambahnya kebaikan. Namun tidak hanya bertambahnya kebaikan, tapi juga ada kejadian-kejadian yang luar biasa dari nalar manusia pada umumnya. Di antara kejadian tersebut adalah:

 

1. ATM Tertelan

Selepas shalat shubuh, kami langsung menuju ke sebuah mesin ATM yang terletak di sekitar Perumahan Semen daerah Kec. Merakurak. Karena uang yang ada pada saat itu hanya ada di ATM, padahal ada tugas akhlak sebagai tuan rumah untuk menyambut tamu. Maka kami harus mengambil uang di ATM.

 

Ternyata saat memasukkan kartu ATM, kartu tertelan oleh mesin ATM dan tidak bisa keluar. Sampai telpon ke nomor kontak pelayanan, hasilnya buntu. Karena waktu itu, kartu ATM yang kami pakai adalah kartu ATM ayah dan pasti membutuhkan langkah yang panjang serta tidak bisa cepat.

 

Akhirnya di luar dan di depan mesin ATM, kami hanya bisa memandang ke atas sambil mengadu kepada Allah SWT, "Yaa Allah, apa iya Panjenengan tidak ridla dengan niat baik kami ini? Yang mau hormat kepada tamu dan demi kepentingan NU?". Sambil mondar-mandir lihat mesin yang menelan kartu tadi. Tapi secara tiba-tiba, kartu ATM yang tadi tertelan ada kembali di dompet.

 

2. Juru Kunci Maqbarah yang Sabar

Sebelum saudara-saudara SKhNU dari berbagai kota dan wilayah hadir di Tuban, jauh-jauh hari kami sudah berkoordinasi dengan Kiai Masruri Makamagung agar diperkenankan masuk "Cungkup Sunan Bonang". Beliau adalah salah satu juru kunci yang kami kenal, karena sama-sama alumni dari pondok Sarang.

 

Karena Kiai Masruri tidak ada jadwal pada saat itu, maka kami diberi nomor kontak untuk berkomunikasi dengan Gus Nawi yang pada hari itu beliau ada jadwal tugas sebagai juru kunci di maqbarah Simbah Sunan Bonang.

 

Tepat pukul 06.00 WIB kami coba menghubungi Gus Nawi dengan nomor yang telah diberikan oleh Kiai Masruri. Setelah diterima, Gus Nawi matur, "Lho.. kabar dari Kiai Masruri kemarin jam 07.00 WIB. Kalau begitu saya persiapan dulu, setelah ini saya langsung ke maqbarah".

 

Kurang lebih jam 07.00 WIB beliau sampai di maqbarah. Namun karena saudara-saudara SKhNU berasal dari berbagai kota dan daerah yang jauh, akhirnya molor sampai sekitar pukul 09.00 WIB baru bisa ngumpul dan masuk maqbarah.

 

Hampir tiga jam lebih, beliau (Gus Nawi) menunggu dengan ketidak pastian. Beliau tetap sabar dan menunggu sambil berdiri di sebelah barat maqbarah. Beliau tidak marah dan tetap ramah menyambut tamu-tamu Simbah Sunan Bonang.

 

3. Leluasa Masuk Maqbarah Sunan Bonang

Setelah saudara-saudara Semut Khittah NU berkumpul semua, Gus Nawi bertanya kepada kami, "Apakah ini mau masuk semua? Soalnya, kalau masuk semua jelas tidak akan muat." Kami jawab,”perwakilan mawon Gus” (perwakilan saja, Gus, red.)

 

Saudara-saudara SKhNU masuk satu-persatu secara tertib ke dalam "Cungkup Sunan Bonang" sambil mengucapkan salam penghormatan. Tidak ada yang mengkoordinir berdiri, saudara-saudara SKhNU berdiri semua dan lebih dari 80 hampir 90 orang bisa masuk. Bahkan masih terasa longgar dan leluasa.

 

Padahal "Cungkup Sunan Bonang" sehari-harinya tertutup untuk umum, ternyata kami semua dipersilahkan masuk sehingga bisa berhadapan langsung dengan pusara Simbah Sunan Bonang. Dimulai dengan tawashul, dzikir, tahlil, dan doa dipimpin langsung oleh Kiai Muzzammil berjalan dengan khusyu serta hikmat. Setelah selesai semua, Gus Nawi memandu keluar "Cungkup Sunan Bonang" dengan aman dan lancar.

Bersambung...

Editor: Fahmi Faal Akbar