SEMUT MELINGKAR DI DUNIA MAYA

Lingkar 2019-12-28 Tim Redaksi SKHNU


Beberapa waktu yang lalu, tepatnya di hari Jumat akhir bulan Desember 2019. Kami anggota semut terlibat didalam sebuah pembahasan mengenai pernyataan dari ketua PBNU KH. Said Aqil Siraj. Sebuah link yang memuat berita itu sengaja kami lemparkan ke forum untuk masing masing anggota semut bisa memberi tanggapan, komentar bahkan analisa terkait berita yang menjadi viral di media masa tersebut.

 

Dari beberapa anggota semut ada beberapa yang memberi tanggapan mengenai berita yang menjadi pokok bahasan para semut kali ini. Ada yang mempertanyakan kebenarannya. Namun sebagian juga ada yang terlihat sangat antusias, meskipun awalnya dengan pemahaman masing masing.

Beberapa teman menyambut baik dengan pernyaataan dari KH Said Aqil Siraj, misalnya mas Faiz menanggapi, "Jika untuk kemajuan dan kebaikan NU tidak masalah, malah kita harus mendukung."

 

Sedangkan dari Kyai Abd Jawad sangat antusias dengan menyatakan mari bersama sama mendukung NU dan pemerintah saat ini. Kemudian, supaya pembahasan bisa berjalan semakin seru dan menarik, saya mencoba memancing dan mengarahkan tentang pernyataan Ketua PBNU itu tentang sebuah kekuatan oligarki yang namanya semakin santer disebut sebut dan selalu muncul di ranah perpolitikan di negara kita.

 

Pembahasan berlanjut, Mbak Hasti yang sedang berada dijerman tiba tiba muncul dengan celotehannya yang renyah dan khas. Begitu beliau muncul, kami seakan akan punya energi baru untuk mengembangkan pokok bahasan terhadap pernyataan dari ketua PBNU itu. Beliau, dengan ciri khasnya yang segar mengomentari,

"Oligarki kok mengomentari oligarki."

 

Disini, langsung kami kejar dengan pertanyaan pertanyaan seputar oligarki. Pembahasan menjadi lebih mendalam, sebab apa itu oligarki bagi sebagian dari kita kurang memahaminya dengan baik. Bahkan Kyai Muzammil sempat meminta untuk menjelaskan oligarki secara etimologis. Karena kesibukannya, Mbak Hasti menjawab pada keesokan harinya yaitu pada hari sabtu.

 

*****

 

Keesokan harinya Kyai Muzammil mengingatkan kepada semua yang ada di WAG supaya lebih fokus lagi kepada masalah pembahasan yang sedang terjadi di forum. Karena diharapkan bisa mendapatkan manfaat serta ilmu yang nantinya bisa berguna untuk langkah langkah skhnu di masa yang akan datang.

 

Menurut Mbak Hasti ; sebenarnya dinegara majupun oligarki masih menjadi model ; di Indonesia sebagai alat kekuasaan ; bukan fenomena kelas sosial yang bermacam macam.

Oligarki kadang-kadang dimaknai secara terminologis identik dengan aristokrasi, yaitu negara yang diperintah oleh anggota kelas bangsawan Atau plutokrasi ; yaitu negara yang diperintah oleh anggota komunitas yang kaya. Namun, baik kekayaan maupun kelahiran yang mulia itu bukanlah syarat yang diperlukan untuk menjadi anggota kelompok istimewa yang mengatur oligarki.

 

Secara historis, ada oligarki terorganisir ; dan oligarki tidak resmi di mana sekelompok "penasihat" mendikte kebijakan penguasa resmi. Dalam praktiknya, hampir semua pemerintah, apa pun bentuknya, dijalankan oleh minoritas kecil anggota masyarakat, dan perlu untuk memeriksa lebih lanjut cara-cara di mana orang-orang ini memperoleh dan mempertahankan kekuasaan untuk memahami dengan benar apakah suatu sistem pemerintahan adalah sebuah oligarki.

 

Wujud oligarki di Indonesia bisa bermacam macam :

pertama sistemik ; artinya fungsi dan negara dan pemerintahan tidak berjalan dengan semestinya.

kedua, struktural ; pemerintah tidak memiliki koordinasi yg baik dg lembaga lembaga dibawahnya

ketiga, tidak bisa membedakan antara organisasi sosial dan keagamaan. Dan terakhir adalah tidak meratanya distribusi ekonomi dan kesejahteraan sosial. Oligarki adalah bagian dari sejarah state/negara ; yang terjadi sebelum munculnya pemikiran tentang demokrasi.

 

Mbak Nahdia lalu melanjutkan penjelasannya ; Gill dalam tulisannya ( 2003: 2-3 ) bahwa tujuan dari teritori negara meliputi tujuh variasi nilai antara lain :

1. Negara adalah sebuah organisasi birokrasi yang tersentral, di dalamnya negara adalah organ yang paling vital dalam konstitusi, serta fungsi fungsi institusi yang bekerja secara formal, legal dan struktural hirarkis

2. Hirarki yang belum terkoneksi seperti negara disebut civil society merupakan organisasi sosial, partai, NGO, asosiasi bisnis dan sebagainya, dimana masih membedakan antara state dan politik Modern State

3.Teritorial domain agama.

4. Monopoli/ oligarchi.

5. Organisasi keagamaan di luar institusi agama, yang lebih bersifat independent contoh organisasi tarekat dan sufi.

Terakhir adalah sentimental yang tersisa, meliputi etnik, religious, atau keberagamaan, penghayat kepercayaan, budaya dan sebagainya. Mengenai runtuhnya civil society dan demokrasi kosong yang terjadi saat ini.

 

Mbak Nahdia menyinggung tentang piagam madinah ; pancingan yang pas ; dalam hati saya.

 

"Pada dasarnya inti dari negara itu adalah Real Historical Madinah State, dan filosofi pemerintah dan agama adalah Historical Makkah Community"

 

Cikal bakal hubungan antara negara dan pemerintah ada pada komitmen atau perjanjian atau yang dikenal dengan bahasa kerennya konstitusi. Amerika atau eropa saja amandemen tidak dilakukan seperti di Indonesia, memang ada beberapa UU di UU 45 yang perlu dikuatkan seperti operasional kata kemanusiaan ; legitimasi dalam pemilihan ; dan UU tentang lingkungan. tapi hanya di indonesia amandemen terjadi tanpa melibatkan quota dan referendum.

Akhirnya seperti yang terjadi sekarang ini, amandemen di negara kita menjadi liar, dan hanya menguntungkan segelintir oligarki saja.

Sebagai penutup, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa yang terjadi di kancah politik , birokrasi , lembaga lembaganya telah terjadi banyaknya kerancuan, tidak singkron satu sama lain. Baik didalam fungsinya maupun di dalam implementasinya.

 

Jika kita berkaca kepada negara negara yang maju tentu saja kita akan ketinggalan kereta, sebab di Indonesia sebagian sumber daya manusianya tidak siap untuk menerima dan melaksanakan hal itu dengan baik.

Masih banyak kepentingan pribadi, kepentingan kelompok dan kepentingan golongan yang menjadi tujuan utama. Masih teramat jauh untuk mendekati kepentingan rakyat.

 

Akhirul kalam ; Semoga pembahasan pembahasan yang merupakan ilmu pengetahuan ini bisa menjadikan manfaat ; baik kepada seluruh anggota semut dan masyarakat pada umumnya.

Dan walaupun semut semut "hanya" melingkar melalui WAG di dunia maya, tapi semangat dan hati masih berkeinginan untuk terus bergerak ; untuk terus belajar ; supaya bisa tetap berjalan di atas Khittah dimanapun kami berada.

 

Semoga..

 

 

SKHNU, 28/12/2019