Tidak Perlu Membenci Kemungkaran, Keburukan dan Kebatilan

Lingkar 2019-11-23 Choirul Anwar


Tidak Perlu Membenci Kemungkaran, Keburukan dan Kebatilan 

Oleh-Oleh Sowan di Ponpes Rohmatul Umam

Oleh: Choirul Anwar (Pengurus PonPes Internasional Al-Illiyin, Gresik)

 

Alhamdulillaah, saya berkesempatan untuk silaturrahmi di Pondok Pesantren Rohmatul Umam yang diasuh oleh KH. Ahmad Muzammil. Begitu sampai, saya langsung diajak untuk mengikuti sholawatan, kebetulan saat itu melantunkan lagu Kisah Sang Rosul. Anak-anak santri diminta Kiai Muzzammil untuk meneruskan bait/syairnya dan dibuat perlombaan siapa yang menang dalam meneruskan syair Kisah Sang Rasul akan mendapatkan hadiah. Sholawatan yang dilaksanakan setiap hari di bulan maulid ini merupakan wujud mahabbah para santri Rohmatul Umam.  Hal ini sangat menginspirasi dan bisa diterapkan di pondok kami.

 

Rampung sholawatan, kami berbincang-bincang tentang kisah perjalanan beliau di Suku Baduy. Beliau bercerita bahwa Suku Baduy  tidak seperti apa yang orang-orang beritakan, beliau menemukan manusia yang orisinil di Suku Baduy. Mereka juga ber-syahadatain, tidak terkontaminasi dengan budaya dan kemajuan dunia luar. Mereka ada dua lapisan, dua kelompok luar dan dalam. Kelompok luar (Baduy Luar) adalah Suku Baduy yang tidak kuat hidup di lingkungan dalam karena di Dalam banyak sekali aturan adat yang harus dipatuhi. Baduy Dalam hanya patuh (sami'na wa atho'na) kepada kepala sukunya ibarat sholat berjamaah makmum wajib patuh pada imam. Makmum tidak patuh maka sholatnya batal, begitu pula Suku Baduy yang hidup di Dalam, yang tidak patuh akan tersingkir di wilayah Luar.  

 

Mereka (suku Baduy Dalam), kata Kiai Muzzammil, sama sekali tidak memiliki rasa curiga (su’udzon) ataupun rasa benci, benar-benar orisinil hati. Pikirannya belum terpengaruh oleh hiruk pikuk kepentingan-kepentingan dunia luar. Dunia luar seringkali diselimuti keinginan-keinginan (nafsu) sehingga menimbulkan daya saing yang akan berujung pada persaingan yang tidak sehat. Persaingan yang tidak sehat inilah yang menumbuhkan rasa benci (kebencian), inilah sumber malapetaka di dunia ini.

 

Seperti sejarah besar yang diabadikan di dalam Alquran tentang asal mula lahirnya "kebencian". Dahulu kala, Tuhan menciptakan Adam lalu mewariskan pengetahuan kepada Adam as., lalu diperintahkanlah bangsa malaikat untuk bersujud, juga Iblis. Namun Iblis menolak bersujud kepada Adam as., karena berpandangan dirinya lebih mulia. Sebab Adam as. adalah makhluk yang tercipta dari tanah hitam, sedangkan Iblis dicipta dari api. Iblis menganggap bahwa api unsur yang lebih mulia daripada tanah. Itulah awal mula sebuah kebencian berawal dari menganggap golongannya lebih baik daripada yang lain ; anna khoirun minhu ; aku lebih baik dari dia, (Al-A’raf-12) red.

 

Demikianlah "kebencian" pertama kali lahir, yaitu berada di dalam hati Iblis. Kebencian ini sebenarnya adalah sifat Iblis yang diturunkan kepada manusia, yaitu pertama kali diturunkan kepada Qobil. Maka dengan kebencian itulah Qobil membunuh Habil. Jika hati kita dipenuhi kebencian, kita akan menjadi mirip Iblis. 

 

Seharusnya kita bisa belajar dari Suku Baduy Dalam yang telah mampu memadamkan api (kebencian) kepada yang lainnya, sehingga benar-benar mampu berkhusnudzon kepada siapapun. Tidak seperti halnya orang yang terkena penyakit bisul, baru mendekat saja orang lain sudah dicurigai akan menyenggol penyakitnya.

 

Lalu bagaimana jika membenci kemungkaran, membenci keburukan, membenci kebatilan?

 

Kemungkaran, keburukan, kebatilan dsb., itu semua seperti alat elektronik yang rusak. Kita tidak  harus membencinya karena kita bisa memperbaikinya. Sebagaimana kita tidak harus membenci tubuh sendiri jika mengalami sakit, karena kita bisa mengobatinya.

 

Apakah di dalam hati kita masih banyak kebencian? Belum terlambat untuk memperbaikinya. Agama memang tidak mengajarkan kebencian, tapi pemuka-pemuka itulah yang mungkin mengajarkan kebencian. Belajar dari kepala Suku Baduy yang mampu menanamkan Islam (keselamatan, kedamaian, kesejahteraan) dalam kehidupan masyarakatnya. 

 

Masih banyak pelajaran yang dapat dipetik dari kisah perjalanan Kiai Muzammil di Suku Baduy Dalam.  Tapi saya kira sekian dulu coretan saya untuk saat ini, semoga bermanfaat.

 

Editor: Fahmi