Tuah Khittah NU

Lingkar 2019-11-16 Ahmad Muzzammil


Obrolan Semut Khittah di Teras Masjid Sunan Ampel Surabaya 

Pada hari Selasa 12 November 2019

 

Sebagian besar ummat manusia beranggapan bahwa materi lebih utama daripada immateri. Itu sudah berlaku di seluruh dunia. Oleh karenanya, manusia memiliki kecenderungan menuhankan materi. Sejatinya itulah akar mula terjadinya kesyirikan di muka bumi.

 

Kemudian Allah swt. pun menurunkan agama dan petugasnya yang disebut Nabi dan Rasul untuk membimbing, menuntun san mengingatkan agar manusia tidak terbujuk oleh hal-hal yang terlihat matanya semata, yaitu segala wujud material. Tapi karena “ndasar” umumnya manusia lebih suka materi, maka agama pun lambat laun di materialisasi. Ajaran agama baru dianggap berhasil apabila berhasil pula mengantarkan ummatnya memperoleh materi; kekayaan, jabatan, popularitas dan lain-lainnya. Jarang yang menyadari bahwa hal tersebut menyimpan potensi kemunduran dan kehancuran ummat manusia.

 

Nahdlatul Ulama didirikan pada tahun 1926 oleh para ulama ternama. Sudah jelas missi utamanya adalah melanjutkan risalah Kanjeng Nabi Muhammad saw. yang dalam perkembangan berikutnya dirumuskan dalam faham aswaja. Bidang geraknya adalah peneguhan dan penegakan nilai-nilai agama di bumi Indonesia. Akan tetapi, karena sebagian besar warga NU sebagiamana ummat manusia pada umumnya adalah manusia yang tergoda oleh materi, maka apabila NU tidak bisa mengantarkan kader-kadernya  pada wilayah kekuasaan dan modal, mereka merasa gagal dan terdholimi.

 

Pengaburan sejarah kontribusinya untuk Indonesia dan juga pembatasan akses pada kekuasaan selama masa orde baru, dianggap suatu musibah besar dalam sejarah keberadaannya. Musibah di sini diukur pada ukuran material, yaitu akses kekuasaan dan ekonomi,bukan pada wilayah nilai spiritual, yaitu sejauh mana ajaran agama (aswaja) bisa terlaksana pada kehidupan. Maka ketika orba runtuh, sebagian besar warga NU berharap dan mendesak agar NU mengambil peran besar dalam politik kekuasaan agar bisa menjadi penguasa di negeri ini.

 

Pernyataan di atas bukan berarti menafikan adanya kebutuhan ekonomi dan keperluan pada kekuasaan, akan tetapi sekedar mengingatkan bahwa NU tidak didirikan sebagai kendaran ekonomi dan politik praktis. Maka tolak ukur keberhasilan dan kegagalannya, mestinya juga bukan itu.

 

Beruntung, saat itu (runtuhnya orba) ada Allah yarham Gus Dur yang bisa membendung arus, sehingga NU tidak menjadi parpol. Karena Gus Dur tahu dan paham khittah atau jenis kelamin NU. Sehingga, arus besar politik itu dikanalisasi pada pendirian parpol yang bernama PKB.

Dengan demikian, NU aman pada posisinya sebagai ormas yang bersifat keagamaan, sedangkan bagi mereka yang punya syahwat dan gen politik supaya melampiaskannya lewat PKB. Sudah sangat pas. NU bertahan pada khittahnya, dan bagi yang mau berpolitik praktis masuklah PKB.

 

Akan tetapi perjalanannya tidak semulus harapan. Dunia kekuasaan tampak sangat menarik. Meskipun telah dibuat rambu-rambu agar pengurus NU tidak boleh berpolitik praktis, apalagi merangkap jabatan di parpol, masih saja ada bahkan banyak yang melanggarnya.

 

Kejadian yang paling gres adalah bersedianya Rais 'Aam PBNU menjadi cawapres Jokowi. Dalam anggaran rumah tangga sudah jelas dilarang dan diancam sanksi pemunduran diri. Tapi apa boleh dikata, lamaran cawapres dianggap sebagai kesempatan emas bagi NU untuk menempatkan kadernya pada kursi kekuasaan politik. Hampir semua kiai dan warga NU mendukung keputusan tersebut, kecuali sedikit saja. Benar hanya sedikit saja.

 

Konsekuensinya Khittah NU dilanggar, karena selama masa kampanye mesin NU diikut sertakan dan atributnya pun digunakan. Dan benar, calon yang didukung "NU" keluar sebagai pemenang kontestasi, dengan pengorbanan nilai-nilai ke Islaman dan khittah yang sangat mahal. Harapan sangat besar ditambatkan kepada pemerintahan baru Jkw-MA. Para petinggi NU mengajukan beberapa nama untuk duduk dalam kabinetnya dan ternyata tidak ada satupun yang diterima. 

 

Keikut sertaan petinggi NU pada ajang kontestasi, apalagi dengan mempergunakan atribut dan ruang publik nahdliyyiin, merupakan pelanggaran atas khittah NU.  Rupanya khittah NU memiliki aji atau tuah. Menjalankan  NU sebagai kendaraan politik mencapai kekuasaan, bisa terkena tuah khittah NU. Oleh karenanya, pada kata penutup keputusan mukatamar NU ke 27 di Situbondo ditegaskan bahwa NU akan mencapai cita-citanya apabila warga NU dan pengurusnya meresapi dan mengamalkan khittah NU.

 

Semoga, semua ini menjadi hikmah yang besar bagi perjalanan NU kedepan.

 

Editor Pelaksan : Ardi