REPORTASE PERJALANAN MENYATUKAN CINCIN DAN TONGKAT (VII)

Lingkar 2019-11-09 Nizam Ubaidillah


NGAJI KHITTHAH (VI)

Sinau Hidup Secara Khittah Ala Kiyai Syaddid

 

Acara ditutup dengan do’a Kiyai Azaim lantas kami para semut yang kebetulan satu rombongan dengan Kiyai Muzammil diajak untuk langsung melaju menuju Pondok pesantren Assunniyyah Kencong dibawah asuhan Kyai Syaddid. Dalam perjalanan kami sempat singgah sebentar di kediaman salah satu teman semut Jember (Mas Lukman) untuk sekadar istirahat sejenak dan membersihkan badan.

 

Tepat pada pukul 22.21 kami tiba di Ndalem (rumah) Kiyai Ahmad Sadid yang akrab disapa Kyai Syadid oleh Yai Muzammil. Kami diterima dan dipersilahkan oleh Kyai Sadid yang kebetulan ketika kami para semut sowan, beliau mengaku kurang sehat kepada Yai Muzammil. Namun semangat dan antusias beliau tatkala kami bertamu dan meminta untuk memberikan pemahaman Khittah Nahdliyah kepada kami.

 

Tak terasa diskusi malam itu berlangsung hingga larut malam dan Kyai Sadid mengaku sembuh dari sakitnya setelah dijenguk oleh Kyai Muzammil, setelah saling berlempar lelucon tentunya. Karena kiyai Syadid sendiri merupakan sosok Kyai yang gemar guyon dalam berdialog.

 

Beliau berpesan kepada kami untuk senantiasa merawat keberagaman dan terus menjaga kemurnian Ghirrah diniyyah sebab beliau memaparkan pula bahwa dalam posisi-posisi yang cenderung kita abaikan sekarang sudah diisi oleh kelompok-kelompok yang cenderung mempolitisasi agama. Beliau dalam hal ini cenderung mencontohkan kepada kami dalam bidang pendidikan.

 

Selama ini perjuangan beliau berafiliasi pada bidang pendidikan dikhususkan pada daerah-daerah yang cenderung tertinggal dan memiliki akses yang sullit dijangkau oleh pemerintah maupun kalangan NU, dalam hal ini Kyai Sadid seringkali dalam perjalanannya dipelosok-pelosok negeri menemukan kelompok-kelompok tertentu yang telah berdakwah dan lebih dulu bergerak daripada kalangan NU sendiri yang mana dalam hal ini jika dibiarkan secara terus menerus, karakter Islam yang dicita-citakan NU dalam Khittah akan berumur pendek dan bahkan bisa jadi mengalami kepunahan.

 

Beliau tak henti-hentinya memberi motivasi kepada kami ditengah diskusi untuk terus berjuang dan bersabar dalam berproses menjadi kader semut Khittah yang militan. Karena dirasa sudah terlalu Malam kami disarankan oleh beliau untuk menginap saja di pondok pesantren Assunniyyah, maka Kyai Muzammil pun mengikuti saran dari Kyai Sadid tersebut.

 

Keesokan paginya kami satu rombongan diajak untuk berkeliling pondok pesantren Assunniyyah. Kami berkeliling dari halaman rumah, menuju pemondokan para santri, melihat-lihat pembangunan yang sedang berlangsung hingga kami diperlihatkan oleh beliau dengan pemanfaatan lahan bangunan yang dibuat untuk semacam tanaman semi hidroponik yang dipadukan dengan kolam ikan lele pada puncak bangunan pesantren yang bertingkat dengan jumlah 4 lantai. Kyai Sadid menjadikan lantai lima sebagai perkebunan pesantren yang ditanami dengan sayuran antara lain tanaman Tomat, lombok, kangkung dan pare.

 

Setelah kami diajak berjalan-jalan dipagi hari, lantas kami juga diajak sarapan bersama-sama dan setelah itu kami bersiap diri untuk pamit sebelum Kyai Sadid melangsungkan pengajian rutinan pada jam 08.00., sayang kami tidak sempat sowan di kediaman Roshiful Aqli (Adik Kiyai Sadid) dan Makbarah K.H Jauhari Zawawi selaku pendiri pondok pesantren dan juga murid langsung dari Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari.

 

________

<Halaman Sebelumnya | Halaman berikutnya>

 

editor pelaksana: Loano Wono Yudho