REPORTASE PERJALANAN MENYATUKAN CINCIN DAN TONGKAT (III)

Lingkar 2019-11-09 Nizam Ubaidillah


NGAJI KHITTHAH (II)
Khittah Yang Telah Ditinggalkan dan Upaya Menghidupkan Kembali

 

K.H.R.A. Azaim Ibrahimy mengutip dari hasil rumusan pertemuan halaqah Nasional Refleksi 33 Khittah NU 26 di Pondok Sukorejo Situbondo 2017 sebagai pemantik terbukanya dialog. Dalam rumusan itu terdiri dari 10 poin yang lebih beliau titik tekankan pada point 7 yang isinya,“ Menyadari belakangan ini bahwa Khittah telah ditinggalkan yang ditandai dengan berbagai sikap, pemikiran dan kebijakan segelintir elit struktur PBNU yang tidak lagi berpegang teguh pada Khittah dan ini berdampak pada posisi NU yang tidak lagi terhormat dan dihormati, serta menurunnya peran nilai tawar politik keumatan dan politik kebangsaan, karena NU telah dianggap sebagai bagian dari politik”.

 

Dalam penyampaiannya beliau juga sempat mengapresiasi langkah Semut Khittah NU dalam melakukan sosialisasi kesadaran berkhittah, bahwa kesadaran Khittah sendiri merupakan kesadaran pribadi, yang kemudian menjadi gerakan bersama. Sekaligus beliau juga tak henti-hentinya berpesan kepada kami sekaligus pada para audien tentang pentingnya sikap rendah hati, bukan berarti kesadaran berkhittah jangan sampai menimbulkan anggapan seolah-olah hendak memperbaiki NU karena itu termasuk sikap yang sombong yang perlu dihindari. Beliau mengakhiri muqadimah dengan harapan agar langkah maupun pemikiran ini dapat menjadikan sarana untuk menggembirakan para pendahulu dan penggagas NU.

 

Selanjutnya K.H. Ahmad Muzzamil menyampaikan tentang pentingnya perjuangan kultural khittah NU bagi masa depan Indonesia. Beliau mengawali dialognya dengan memberikan pemahaman pada para audien terkait pentingnya perbedaan, sebab menurut beliau kedewasaan berfikir sebuah dialog hanya akan terwujud oleh sebab adanya perbedaan, terlebih terkait tentang pemahaman Khittah yang selama ini menjadi pemahaman secara mainstream.

 

Selanjutnya karena di awal Kyai Azaim sempat menyinggung kami para Semut Khittah maka Kyai Muzammil juga merespon terkait faktor yang melatarbelakangi kelahiran semut Khittah Nahdlatul Ulama. Mulai dari awal mula diskusi dengan Gus Mus, hingga mendapat restu dari Kyai Nawawi tentang ide Kiai Muzzamil yang bermaksud mengumpulkan pemuda-pemuda yang berani bertindak, ikhlas dalam memahami dan mengamalkan khittah nahdliyah secara mandiri dan bersama-sama, yang tidak punya ambisi apa-apa terhadap NU.

 

Dalam penyampaiannya tak jarang juga beliau melemparkan joke-joke untuk sekadar menyegarkan suasana diskusi ilmiyah siang itu. Seperti halnya sanggahan beliau terhadap moderator terkait singkatan NU yang bagi moderator disalah artikan sebagai Ndandani Urip menjadi Nunut Urip.

 

Menurut beliau jika ada wacana bahwa khittah merupakan kata yang abu-abu beliau tidak setuju. Sebab khittah NU sendiri merupakan suatu hal yang jelas, sebab khittah NU sendiri merupakan Pola Pikir, Pola Bertindak, Pola Bersikap yang sudah diwarisi secara turun temurun, yang akhirnya dirumuskan dalam sebuah rumusan yang di gagas oleh K.H Ahmad Shiddiq dalam berorganisasi di tubuh NU agar tercipta persatuan berdasarkan kesamaan-kesamaan cita-cita yang hendak diraih secara bersama-sama dibalik perbedaan-perbedaan yang telah ada.

__________

Halaman Sebelumnya | Halaman berikutnya>

editor pelaksana: Loano Wono Yudho