REPORTASE PERJALANAN MENYATUKAN CINCIN DAN TONGKAT (II)

Lingkar 2019-11-09 Nizam Ubaidillah


NGAJI KHITTHAH (I)

Khittah Mendidik Kemandirin Dengan Luwes

 

Halaqah ilmiyah yang bertemakan Ngaji Khittah Bersama K.H.R.A. Azaim Ibrahimy yang diadakan oleh Keluarga besar Allahyarhamhuma K.H. Abdul Muchith Muzadi dan K.H. Hasyim Muzadi ini tampak pula dihadiri oleh beberapa Kyai NU, diantaranya yang terlihat K.H Fadlurrahman Zaini, K.H. Abd Rahman Wafi, KH. Fahmi AHZ, K. Imdad Rabbani dan K.H. Abd Rahman Wafi. Selain itu, tidak sedikit pula pengurus NU di Jember, Rektor UNJ yang juga ikut ngaji bersama ditengah-tengah puluhan mahasiswa dan santri-alumni Nurul Jaddid dan Sukorejo maupun masyarakat luas dan yang berdatangan dari sekitar jember dan kota-kota terdekat lainya.

 

Tiba di lokasi, kami para semut disambut dengan performing art teman-teman yang tergabung dalam kepanitiaan takmir Masjid Sunan Kalijaga dengan sajian qashidah-qashidah. Tidak lama kemudian acara dimulai dengan bacaan ayat suci Al-Qur’an dan sambutan tuan rumah yang diwakili oleh Gus Alfian selaku putra ke-9 dari K.H. Abdul Muchith Muzadi. Gus Alfian mengakhiri sambutanya dengan mengutip wasiat ayahanda beliau : “ Sak iso-isomu, berbuatlah sesuatu yang manfaat untuk NU, meskipun kamu tidak punya apa-apa.”

 

Dalam acara tersebut masing-masing peserta diberi buku berjudul Mengenal Nahdlatul Ulama karya K.H. Abdul Muchith Muzadi, Khittah Nahdliyyah Karya K.H. Achmad Siddiq serta fotocopy tulisan-tulisan Gus Dur, K.H. Achmad siddiq, K.H. Abdul Muchith Muzadi yang pernah dimuat di majalah Aulia terkait Khittah NU, serta rangkuman terkait sikap dan rekomendasi Halaqah Nasional Refleksi 33 Khittah Nu 26 yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’Iyah Sukorejo Situbondo di tahun 2017 yang lalu.

 

Ir. H Muhammad Thamrin sebagai moderator ngaji khittah lantas mempersilahkan K.H.R.A. Azaim Ibrahimy menyampaikan materi Muqaddimah ngaji Khittah dengan meminta tabarukan surat al-Fatihah kepada K.H. Fadlurrahman Zaini dengan harapan agar halaqah ilmiyah ini lebih barokah.( K.H.R.A. Azaim Ibrahimy). Kyai Azaim berharap setelah diadakan acara seperti ini mampu menambah dan memperkuat maupun menyambung secara utuh bagi generasi-generasi muda Nu dalam memahami fikrah/pemikiran para pendahulunya di jam’iyah ini yang bercita-cita mulia untuk mengawal NU sebagai jamiyah diniyah yang berwawasan kebangsaan, tidak terjebak pada kepentingan politik sesaat 5 tahunan ataupun tawar-menawar jabatan dan sebagainya. Maka sudah sangat tepat jika kita mau membaca kembali buku Khittah Nahdliyah K. H. Ahmad Siddiq.

 

Kemudian beliau juga mengulas tentang artikel-artikel lawas yang kini sudah semestinya menjadi arsip kita bersama yang harus kita jaga. Beliau menganggap bahwa dalam tulisan Kyai Muchid dengan judul “Khittah mendidik kemandirin dengan luwes” majalah Aula edisi ke-73 Maret 1996 ini merupakan suatu tawaran terkait bagaimana pemikiran tentang khittah Nu bisa diterima dengan memperlihatkan suatu contoh kasus pada Muktamar Cipasung dengan mengkutip tulisan kiyai Muchid “ dimana NU merasa terancam kemandiriannya, maka NU ngotot mempertahankan kemandirian itu sampai terlihat kaku, tidak luwes seperti biasanya”.

__________

Halaman sebelumnya | Halaman Selanjutnya

editor pelaksana: Loano Wono Yudho