TANDUR…TANDHUR…WAL TANDHUR NAFSUN… Bagian Satu: Bekerjasama Dengan Lelembut atau Makhluk Halus (dua)

Artikel 2021-04-23 Rudd Blora


Bagi mereka (Kang Jamin dkk, red.), nandur adalah sebuah kata kerja dari kata tandur yang mereka yakini merupakan serapan dari kata tandhur dalam QS. Al-Hasyr ayat 18: “Yaa ayyuhal ladziina aamanu-ttaqullaaha wal tandhur nafsun-maa qaddamat lighad, wa-ttaqullaaha, innallaaha khabiirun bimaa ta’maluun”. Dimana dalam ayat tersebut Allah memerintahkan “hendaklah setiap diri tandhur (memperhatikan, melihat, memikirkan) apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok”. Maka tidak heranlah jika dalam aktivitas nandur (bertani) mereka selalu memikirkan bagaimana nasip anak-cucunya kelak jika yang mereka tinggalkan adalah lahan-lahan yang telah rusak dan tidak subur.

Mereka meyakini, bahwa setiap perbuatan adalah tanduran yang kelak akan mereka petik buahnya (Jawa: wohing pakarti, pen.). Dan baik buruknya buah hasil perbuatan itu tidak hanya akan mereka rasakan sendiri, tetapi ada beberapa akibat yang baru akan dirasakan oleh generasi berikutnya. Dan karenanya, agar hal itu tidak terjadi, maka sejak awal mereka yang memutuskan diri terjun bertani telah bermantab hati untuk melibatkan makhluk halus atau bangsa lelembut dalam melakukannya. Maka bagi Kang Jamin dkk, musim laboh disamping merupakan waktu untuk menyiapkan ubo rampe seperti halnya para petani kebanyakan, adalah juga waktu untuk membangunkan para lelembut piaraan mereka.

*

“Piye Kang, sedulur tuwa bangsa lelembute wis ditangekno kabeh? (Gimana Kang, saudara tua makhluk halusnya sudah dibangunkan semua?)”, tanya Kang Jimin saat istirahat ngudut usai sarapan di pematang yang berbatasan dengan sawah Kang Jamin.

"Kawuningan Kang, sedulur tuwaku bablas dibadog tikus”, jawab Kang Jamin.

“Lho lhah, kok bisa begitu bagaimana ceritanya Kang?”, sahut Kang Jaman yang sedang siap-siap melanjutkan bikin ladonan untuk menebar benih.

“Masak tidak tersisa sedikitpun?”, tambah Kang Jumain

“Semua babonan3) yang saya punya bablas. Tinggal Trycoderma Sp.dan Bacillus Sp.yang saya masih punya isolat-nya. Jadi nanti tinggal saya kembangkan lagi. Sedangkan selain dari keduanya saya sudah tidak punya isolat-nya. Tinggal punya babonan-nya yang dimakan tikus itu. Yang cair sih masih punya sedikit, tapi bukan F1, jadi kurang manteb kalau mau saya biakkan lagi, makanya setelah lautan4) nanti saya mau hunting bahan-bahannya untuk membikin lagi yang baru”, terang Kang Jamin panjang lebar sambil sesekali nyedot udut linthingan hasil tembakau tanamannya sendiri musim lalu.

“Wooo kemlinthi, ing atase cekelane pacul ae ngomong hunting barang (Wooo gaya, orang kerjanya pegang cangkul saja pakai istilah hunting segala)”, cerocos Kang Jiman yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.

“Santai Kang, kami semua masih punya babonan lengkap kok, kuwalat kalau kami tidak rela berbagi dengan njenengan”, kata Kang Jimin.

“Iya Kang, kami bisa seperti ini yang ngajari dulu kan njenengan, masak kami tega untuk tidak berbagi”, timpal Kang Jiman.

Begitulah, bagi Kang Jamin dan kawan-kawan musim laboh adalah musim dimana mereka akan melakukan aktivitas membangunkan para lelembut tersebut dari tidurnya kemudian menernak atau mengembang biakkannya.

Ups, jangan kesusu menganggap mereka pemuja makhluk halus dan menuduh syirik dulu, bangsa alus atau lelembut yang mereka maksud disini bukan jin, wewe gombel, gundul pringis, dan sebangsanya. Melainkan beberapa jenis bakteri dan atau mikro organisme lokal seperti PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobakteri), Bacillus Sp., Coryne Bacterium yang kemudian berganti nama menjadi Paenibacillus Polymixa, Nitrobacter dan lain-lain. Juga beberapa jenis agen hayati dari golongan cendawan yang sangat membantu di dalam budidaya pertanian semacam Trycoderma Sp.,Beauvaria Bassiana, Mikoriza, dan sebagainya.

*

Dalam bertani, orang-orang seperti Kang Jamin dan kawan-kawan ini sesungguhnya adalah pasa. Bagaimana tidak, jika mereka mau bertani seperti petani kebanyakan mereka bisa membawa pulang hasil panen padi 7-8 ton per-hektar, tetapi demi menjaga kesehatan tanah, demi hasil panen yang tidak terpapar residu racun kimia, dan demi tidak memutus rantai makanan atau ekosistem mereka rela hanya mendapat 5-6 ton per-hektar, bahkan disaat-saat awal dulu kurang dari itu.

Yang lebih penting dari itu semua adalah demi untuk tidak menanam keburukan yang hasilnya nanti akan dirasakan oleh generasi anak-cucunya dan demi untuk mendapatkan (dan menyediakan) asupan yang halalan thayyiban, yang bukan hanya halal barang dan cara mendapakannya, melainkan juga thayyib dzatnya (tidak mengandung racun). Mengenai hasil panen yang untuk sementara lebih rendah dari bertani konvensional (bertani kimia) bagi mereka tidak masalah, karena mereka yakin bahwa, barang siapa yang setia menjaga dan menghidupi makhluk Allah, maka Allah pasti akan menjaga dan menghidupinya.

Setelah nandur dan pasa, sadaqah adalah aktivitas yang selalu berusaha mereka jaga. Baik sadaqah kepada sesama petani maupun kepada alam, lingkungan, tanaman, dan kepada makhluk-makhluk Allah yang tidak kasat mata yang mereka sebut bangsa lelembut itu.

Sadaqah kepada sesama petani mereka lakukan dengan cara berbagi ilmu kepada dulur-dulur petani yang tertarik dan ingin bertani seperti mereka. Bukan hanya sekedar berbagi ilmu, melainkan juga berbagi isolate (bibit bakteri, bibit mikro organisme local, bibit cendawan, dll) bagi mereka yang tidak ada waktu (untuk tidak mengatakan malas) untuk membikin sendiri. Juga bagi mereka yang tidak mampu membeli isolate atau mampu tetapi tidak ada waktu untuk membeli karena biasanya harus beli di laboratorium pertanian, padahal tidak setiap kota kabupaten ada laboratorium pertanian.

Sadaqah kepada alam, lingkungan, tanaman, dan kepada makhluk-makhluk Allah yang tidak kasat mata mereka lakukan dengan cara mengolah lahan dan merawatnya dengan sebaik mungkin: menambah pupuk kandang atau organic sebagai ‘rumah’ bagi bakteri atau mikro organisme untuk berkembang biak. Juga dengan menambah jumlah bakteri penyubur yang akan memberi keuntungan dalam proses fisiologi tanaman dan pertumbuhannya sehingga tanaman akan tahan terhadap penyakit dan hama. Tidak lupa juga menebar agens hayati dari golongan jamur atau cendawan yang menguntungkan. Dengan demikian, tanah menjadi sehat dan gembur dan tanaman menjadi tumbuh sehat dan subur. Jika ada tanda-tanda hama dan penyakit mulai datang, mereka sangat menghindari penggunaan pestisida kimia sintetis dalam mencegah atau menanggulanginya. Mereka lebih suka memakai pestisida alami yang gampang dan lebih cepat terurai, sehingga tidak mencemari alam/lingkungan dan hasil panen yang mereka dapatkan.

Bertani bukan hanya sekedar mengolah tanah, menanam bibit, lalu merawat, memupuk, dan memberantas hama dan penyakit, tetapi juga berpuasa yang dibarengi dengan menebar cinta kepada tanah, kepada tanaman, dan kepada semua makhluk yang ada dan ‘berumah tangga’ di lahan pertanian kita. [RB]

Bersambung…..!

 

Catatan:

1) Tanah yang rekah atau pecah karena lama terpapar panas matahari.

2)Membalik tanah

3)Sebutan/istilah yang biasa digunakan oleh petani organic untuk menyebut turunan pertama atau F1 dari bibit bakteri atau mikro organisme lokal dan bibit agen hayati.

4)Pulang dari sawah

 

Blora, 12 Desember 2018

Rudd Blora

Tulisan ini sudah pernah dimuat/dipublish pertama kali di Bulletin Maiyah Jatim edisi Des 2018

disunting ulang untuk skhnu.com: Fahmi