TANDUR…TANDHUR…WAL TANDHUR NAFSUN… Bagian Satu: Bekerjasama Dengan Lelembut atau Makhluk Halus (Satu)

Artikel 2021-04-21 Rudd Blora


 

“Menyembah Tuhan, katakanlah

Apa gerangan menyembah Tuhan

Ialah mencangkul sawah dengan hati ikhlas

Memelihara kesuburan tanah, menyirami tanaman…”

(Emha Ainun Nadjib, Naskah Teater: Santri-Santri Khidlir, November 1991, hal 11.)

 

Musim hujan telah tiba. Walau airnya belum bisa menggenangi sawah, tetapi hujan deras beberapa waktu lalu, paling tidak, telah mampu menutup telo 1) yang menganga dan menumbuhkan tunas-tunas ranum dari tunggak rumput kering sisa disabit para pencari rumput untuk pakan ternak. Disusul kemudian dengan tumbuhnya tunas-tunas baru pada tumbuhan jenis empon-empon dan polo pendem seperti jahe, lengkuas, kunyit, temu ireng, ubi jalar, gembili, dll. Mungkin pemandangan seperti inilah asal-muasal peribahasa 'hujan sehari menghapuskan panas setahun'.

Hujan yang disusul dengan ber-tunas-tumbuh-nya tumbuh-tumbuhan yang berkembang biak melalui umbi merupakan pertanda musim tanam telah tiba. Khususnya untuk lahan-lahan tadah hujan yang 100% bergantung kepada jatuhnya air dari langit. Berbeda dengan lahan yang ditunjang dengan irigasi teknis atau terdapat sumber mata air yang mencukupi, dimana musim tanam mereka bisa sepanjang tahun. Bagi petani yang berada di daerah tersebut, mungkin sudah tidak memerlukan lagi pertanda yang ‘diberikan’ oleh alam mengenai kapan musim tanam dimulai. Berbeda dengan saudara mereka para petani di daerah lahan tadah hujan, dimana mereka harus pandai-pandai membaca ayat-ayat kauniyah yang mereka yakini sebagai perintah dari Allah SWT untuk memulai musim tanam.

Musim laboh atau labuhan, begitulah petani menyebutnya, yakni peralihan dari musim kemarau menuju musim penghujan. Musim waktunya untuk menanam palawija: jagung, cabe, kacang-kacangan, tomat, dan lain-lain untuk lahan-lahan yang sekiranya pada musim penghujan nanti tidak memungkinkan untuk ditanami padi. Sedang untuk lahan-lahan yang nantinya mau ditanami padi, musim laboh bagi mereka adalah waktu untuk menyiapkan segala ubo rampe dalam bertanam padi pada musim penghujan kelak: mulai dari ngrakal 2), menyiapkan benih yang mau ditanam, membuat tempat penebaran benih agar menjadi winih yang siap tanam, memperbaiki pematang, sampai dengan nyicil membeli pupuk yang nanti dibutuhkan. Yah, nyicil, karena kebanyakan dari mereka tidak mampu untuk membeli breg seluruh kebutuhan pupuk, kecuali hanya sebagian kecil dari mereka saja. Mereka juga tidak berani ambil resiko dengan menabung uangnya terlebih dahulu, setelah nanti terkumpul baru membeli pupuk yang mereka butuhkan, karena sudah menjadi ‘rutinitas’ setiap tahun dikala musim tanam tiba pupuk bersubsidi akan tiba-tiba langka di pasaran. Mereka tidak habis pikir mengapa pupuk yang ada di agen-agen yang telah ditunjuk oleh pemerintah untuk melayani kebutuhan mereka, para petani, selalu kosong setiap musim tanam tiba, padahal mereka selalu membuat RDKK untuk kebutuhan tanam setiap tahunnya.

Tersebutlah Kang Jamin dan kawan-kawan, yakni Kang Jiman, Kang Jaman, Kang Jimin, Kang Jumain, dan lain-lain, yang berbeda dari petani kebanyakan. Mereka adalah sekelompok petani yang wani ora umum yang dalam melakukan aktivitas pertaniannya ngugemi salah satu pesan dari guru kehidupan mereka: mBah Sidik Paningal, yaitu: Nandur, Pasa, dan Sadaqah. Bagi mereka nandur adalah kewajiban hidup yang tidak bisa mereka lakukan sendiri, melainkan harus bekerjasama dengan bangsa alus atau lelembut yang hidup dan menempati lahan garap mereka. Mereka menyadari, tanpa kehadiran para lelembut itu sawah dan ladang mereka semakin lama akan semakin tidak subur dan rusak. Dan itu bertolak belakang dengan aktivitas nandur yang mereka lakukan.

...bersambung ke (dua)