MENDENGAR LANGKAH SEMUT

Artikel 2020-06-25 Joenoes Bachtiar


Diantara rerumputan segerombol semut berjalan beriringan. Ada yang membawa sisa makanan, ada pula yang tidak. Mereka seolah olah saling menyapa satu sama yang lain. Tapi tujuannya sama, menuju sarang yang ada dibawah akar pohon mangga di sebelah rumah.

Bukan kijang apalagi seekor gajah yang keberadaannya tampak menonjol diantara ciptaan Tuhan yang lain. Semut keberadaannya hampir tak terlihat. Samar di sela-sela tanah, di sela rumput atau dibawah batu taman.

Tapi bukan berarti semut adalah mahluk yang paling mungil. Ada ratusan bahkan ribuan atau jutaan lagi jumlahnya yang lebih kecil. Seukuran atom. Mikroskopis. Sebut saja amuba, kuman, plankton, bakteri, bahkan virus.

Belakangan, virus meskipun tubuhnya berukuran mikroskopis, tak kasat mata, tapi sanggup menampakkan dirinya kepada dunia. Meskipun kecil setidaknya sanggup merubah sebuah tatanan yang ada. Mulai dari ekonomi, kegiatan belajar mengajar, kegiatan ibadah, politik, kebijakan pemerintah, ormas, bahkan rapat sekelas RT. Semua terkena imbas tanpa pandang bulu.

Itulah yang terjadi. Virus-isme bahkan menjadi perdebatan panjang. Terutama dikalangan orang orang cerdik pandai, agamawan, sampai politikus. Sambil bersembunyi di ketiaknya masing-masing tanpa menampakkan batang hidung disela sela "Sosial Distancing". Opininya selalu bercampur politik, dibumbui aroma agama kepada khalayak ramai, baik melalui media sosial ataupun media massa lainnya.

Sampai disini terkadang jadi rindu akan sosok beberapa sesepuh yang telah meninggalkan kita. Misalnya saja Gus Maksum Lirboyo, atau lainnya yang tidak bisa disebutkan namanya. Jika beliau beliau masih ada, mungkin hanya tertawa menghadapi corona yang hanya seupil. Sambil mengibaskan "rambut apinya", istighosah akan berjalan seperti biasa, tidak online. Corona langsung kabur. Pembahasan mungkin akan lebih menjurus kepada obyek virus.

Dalam beberapa kitab, Tuhan telah menitipkan "kode"-Nya, buat ummat-Nya. Seperti misal didalam sebuah Kitab Veda. Disitu disebutkan bahwa sub-species virus ini berasal dari air. Kemudian disebutkan didalam kesehatan bahwa penularan virus lebih masif apabila terkena air liur, bersin, atau ingus, yang semuanya adalah berupa cairan atau air.

Bagaimana dengan Al Qur'an? Silahkan disimak QS. Al-Anbiya Ayat 30: ".....Dan kami jadikan segala yang hidup dari AIR. Apakah kalian tidak mempercayainya ?".

Lalu yang terjadi kemudian dunia kesehatan membuat "fatwa" medis untuk selalu cuci tangan dengan air.

Kedua "Kode" Tuhan didalam dua kitab ini tampak serupa sekali. Cocok sekali bukan ?

Ini baru dua kitab yang disinggung, belum yang lain. Meskipun berbeda keyakinan semua akan tampak indah jika bersatu bersama sama menghadapi persoalan yang bersifat duniawi ini. Daripada mempersoalkan benar salah atas sebuah idealisme. Lalu bagaimana dengan "rambut api"? Apakah api atau sejenis api bisa menjadi obatnya ? Mungkin bahasannya lain kali saja di lain kesempatan. InsyaAllah.

Terlepas dari hal itu semua, bukannya tidak penting mengikuti para cerdik pandai, atau para agamawan. Yang didalam perdebatannya selalu mengesampingkan paramedis, dokter, bahkan ilmuwan. Yang ujung ujungnya hanyalah debat kusir belaka. Tak ada satupun yang berpikir tentang negara apalagi berbicara masalah kemanusiaan.

Manusia sebagai mahluk berinteligensia paling tinggi sudah seharusnya memikirkan kemanusiaan. Kebaikan buat masyarakat tanpa mengabaikan perusakan pikiran sampai perusakan lingkungan. Manusia diberi anugrah kemampuan berpikir yang luar biasa. Yang disebut pikiran sadar diri ; Self Conscious Mind. Yang bersifat Self Reaktif ; yang mampu merefleksikan diri. Bahkan mampu mengamati perilaku dan emosi kita sendiri, dalam hal khususnya adalah intropeksi diri.

Manusia menjadi aktif dan sangat sadar untuk memutuskan sekaligus mengubahnya.

Kemampuan pikiran sadar adalah sebuah pondasi daripada kehendak bebas ; Free Will.

Sama dengan yang dilakukan semut-semut dibawah pohon mangga. Mereka bertindak demikian karena sesuai dengan marwahnya. Mereka tidak pernah memikirkan urusan sang kijang ataupun sang gajah. Mereka tidak peduli, sebab apa yang dijalankan sudah yang seharusnya dijalankan. Sudah tasamuh, i'tidal dengan benar.

Semut bahkan tidak pernah "mencomot" ide kijang atau gajah. Gagasan yang tidak orsinil dicomot begitu saja semisal kejadian dinamika politik yang terjadi dianggap sebuah kebenaran. Jika ini terjadi maka apa yang dilakukan semut menjadi tidak orisinil, tidak asli. Bagaimana jika persepsi yang dicomot tadi ternyata keliru ? Tidak akurat ?

Yang terjadi kemudian adalah mispersepsi. Akhirnya ada "mesin" yang dikendarai "hantu".

Jika demikian yang terjadi, lalu apa yang akan bisa diaplikasikan? Sebuah ide dari kijang atau gajah yang dijalankan oleh seekor semut. Tentu kita tidak mau demikian bukan?

Lewat beberapa abad yang lalu kita mungkin saja telah disindir oleh Tuan Nasrudin Hoja, Abunawas dari Turki yang masyur. Ketika pada suatu malam tampak Nasrudin Hoja mencari sesuatu didepan rumahnya. Persis dibawah lampu penerangan jalan. Lama sekali. Sampai sampai menarik perhatian tetangganya. Tetangga Nasrudin Hoja datang menghampiri seraya bertanya, "Wahai sobat, sedang mencari apakah kamu ?".

Tanpa menoleh Nasrudin menjawab, "Aku sedang mencari kunci rumah..".

Melihat hal itu tetangganya langsung sigap ikut mencari. Setelah sekian lamanya mencari, yang dicari belum juga ketemu.

Tetangganya lalu bertanya, "Sebenarnya dimanakah engkau letakkan kunci rumahmu wahai Nasrudin ?".

"Aku menaruhnya didalam rumah.." jawab Nasrudin pelan.

Mendengan jawaban Nasrudin tetangganya sontak marah dan berkata, "Jika kunci engkau taruh didalam rumah, lalu mengapa engkau mencarinya diluar rumah Nasrudiiinn..... !!!".

Dengan tenangya Nasrudin Hoja menjawab, "Saya mencari kunci rumah dipinggir jalan sebab disini terang, ada lampu jalan. Didalam rumah gelap tidak ada lampu".

Sementara semut semut di bawah pohon mangga terus saja sibuk berjalan. Memasuki sebuah rongga lubang kecil yang mengarah pada akar. Sebuah rongga yang entah berisi apa didalamnya, namun jelas itulah tujuannya.

 

Dibawah pohon mangga, Juni 2020

Editor: Fahmi Faal Akbar