Bagian 2 ; Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh, dan Silih Wangi Untuk Kemandirian Ekonomi Warga Nahdliyin

Artikel 2020-01-15 Ngumar


Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh, dan Silih Wangi
Untuk Kemandirian Ekonomi Warga Nahdliyin 
(Bagian II)
 
(2) Prinsip Silih Asah
 
Menyambung tulisan saya yang berjudul “Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh, dan Silih Wangi Untuk Kemandirian Ekonomi Warga Nahdliyin”, pada kesempatan kali ini saya ingin memaparkan tentang prinsip silih asah. Saya berpendapat tentang perlunya penajaman fungsi bagi segenap warga Nahdliyin agar semakin mampu mengatasi dinamika dalam masyarakat. Untuk mencapai penajaman fungsi tersebut diperlukan mekanisme sosial untuk saling mangasah kemampuan warga Nahdliyin dalam bidang masing-masing.
 
Apabila kita memiliki pisau, untuk menjaga ketajaman pisau yang kita punya maka pisau tersebut perlu diasah. Untuk mengasah pisau, kita perlu media asah yang memiliki sifat keras. Tidak mungkin kita mengasah pisau dengan roti atau agar-agar yang lembek. Namun, perlu kita sadari bahwa walaupun media asah untuk menajamkan pisau memiliki sifat keras, akan tetapi permukaan untuk mengasah pisau harus halus. Mengasah pisau di permukaan batu yang kasar justru akan membuat pisau rusak. Pisau menjadi tajam belum tentu, kemungkinan pisau menjadi rusak hampir dapat dipastikan.
 
Belajar dari hubungan antara pisau dan alat pengasah pisau, dapat kita ambil beberapa pelajaran yang sangat berharga. Sabar dulur, akan saya paparkan pelan-pelan …. Mari nyruput kopi dulu sembari panjenengan semua membaca tulisan saya ini ….
 
Begini dulur, dalam kaitannya dengan kemandirian ekonomi, pandangan yang jujur terhadap produk usaha yang kita hasilkan sangatlah penting. Apa yang menurut kita baik belum tentu orang lain menganggapnya baik, oleh karena itu saran-saran yang membangun demi menjaga kualitas produk yang kita hasilkan sangat diperlukan. Kritik dan saran yang dilandasi prinsip silih asih merupakan obat mujarab bagi penyakit cepat berpuas diri.  
 
Saran yang jujur dan “pukulan lembut” berupa kritikan yang membangun memerlukan suatu seni tersendiri dalam penyampaiannya. Di sinilah pentingnya semangat silih asih. Saya mempercayai bahwa apabila setiap tindakan kita dilandasi dengan silih asih, apapun yang keluar dari lisan dan tindak tanduk kita semuanya akan baik. Seandainya suatu ketika terpaksa terjadi kesalahpahaman, saya yakin akan segera dapat diluruskan pokok permasalahannya serta dipulihkan kembali hubungan baiknya, dengan catatan apabila kita benar-benar berupaya mengawali segala sesuatu dengan niat baik.
 
Sesuatu yang bersifat “terlalu” tidak akan baik. Orang yang “terlalu kuat” akan jarang menerima kritik dan saran karena orang-orang sungkan untuk menyampaikannya, walaupun dalam diri “orang kuat” tersebut terdapat kesalahan dan kelemahan. Oleh karena itu, untuk sesekali waktu meminta kritik dari orang lain akan sangat berguna mengingat kita manusia bisa lupa dan salah. Jika kita membuat suatu produk, penting sekali untuk meminta kritik dan saran yang jujur dari orang-orang dekat kita.
_______

 

<halaman sebelumnya