bagian 1 ; Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh, dan Silih Wangi Untuk Kemandirian Ekonomi Warga Nahdliyin

Artikel 2020-01-14 Ngumar


Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh, dan Silih Wangi
Untuk Kemandirian Ekonomi Warga Nahdliyin 
(Bagian I)
 
Jaman dahulu kala di suatu negeri, terdapatlah seorang raja yang konon katanya sangat arif bijaksana. Rakyatnya hidup makmur dangan sangat mencintai rajanya. Raja ini bergelar Prabu Siliwangi. 
 
Apabila Sunan Kalijaga meninggalkan gending-gending yang indah dan syarat makna untuk masyarakat, Prabu Siliwangi meninggalkan suatu ajaran pemikiran yang terbukti “cespleng” untuk kesejahteraan dan keamanan rakyatnya berupa prinsip “Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh, dan Silih Wangi”. Hingga saat ini, Pasukan Divisi Siliwangi di Jawa Barat secara teguh menggunakan prinsip tersebut dalam pola pikir, pola sikap, serta pola tindaknya. Dan hasilnya telah terbukti dalam ukiran sejarah bangsa kita, sangat luar biasa. Pasukan Siliwangi banyak menang dalam pertempuran sejak zaman dahulu kala.
 
Lantas apa kaitannya silih asih, silih asah, silih asuh, dan silih wangi dengan Nahdliyin?
Sabar dulur, akan saya jelaskan pendapat saya melalui tulisan ini….
 
Puluhan juta jumlah warga Nahdliyin di negeri kita, suatu jumlah yang cukup lumayan besar. Apabila Nahdliyin kompak, saya yakin banyak masalah di negeri kita yang dapat lebih mudah untuk diatasi, termasuk permasalahan ekonomi. Bayangkan saja, jika Empat Puluh Juta Nahdliyin kompak tidak membeli rokok dari pabrik selama satu bulan saja, saya yakin pabrik-pabrik rokok itu akan kolaps. Untuk mendukung kekompakan, Nahdliyin dapat belajar kepada Prabu Siliwangi.
 
(1) Prinsip Silih Asih
 
Silih Asih adalah suatu kesadaran untuk senantiasa melandasi pola pikir, pola sikap, dan pola tindak dengan semangat kasih sayang. Manusia itu tentunya berbeda dengan produk barang buatan pabrik, manusia memiliki hati dan perasaan. Apabila ingin mendekati manusia, unsur kasih sayang dari hati tidak dapat ditinggalkan karena hati hanya dapat didekati dengan hati juga.
 
Apabila segala sesuatu diniatkan dengan kasih sayang yang berasal dari hati yang baik, niscaya kesalahpahaman, perbedaan, pertentangan kepentingan yang mungkin muncul ketika berinteraksi dengan sesama manusia akan lebih mudah dicari solusinya. 
 
Apabila Nahdliyin menerapkan prinsip ini, mereka akan lebih memilih membeli produk-produk dari sesama warga Nahdliyin, sehingga cerita ada warga Nahdliyin yang bangkrut usahanya karena kalah bersaing dengan perusahaan-perusahaan raksasa tidak akan terjadi lagi. Demikian pula bagi warga Nahdliyin yang memiliki usaha, apabila melandasi proses produksinya dengan prinsip silih asih tentunya dia akan berupaya sangat keras untuk menghasilkan produk-produk terbaik untuk saudara-saudara yang akan membeli produknya.
 
Apabila prinsip silih asih diterapkan dalam keseharian ekonomi Nahdliyin, akan tercapai keseimbangan dalam kasih sayang. Warga Nahdliyin yang memiliki usaha tidak khawatir produknya tidak laku, karena yakin saudara-saudara Nahdliyin akan membeli produknya. Oleh karena itu, dia mensyukurinya dengan menyajikan produk-produk terbaik bagi konsumennya. Warga Nahdliyin yang menjadi konsumen juga tidak dirugikan karena mendapatkan produk-produk dengan kualitas terbaik, bukan tipu-tipu.
________