Ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese durangkara

Artikel 2020-01-12 Ngumar


Bagian 3: Ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese durangkara

 

Setelah saya mencari, akhirnya saya temukan bahwa ungkapan “ngelmu iku kalakone kanthi laku” adalah nasehat dalam bahasa Jawa yang terdapat dalam Serat Wulangreh yang dianggit oleh Pakubuwono IV yang berarti bahwa ilmu itu baru dapat dipahami dengan sebenar-benarnya melalui penerapan dalam tingkah laku atau perbuatan.

Untuk redaksi lengkapnya adalah sebagai berikut:

 

Ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese durangkara

 (Pakubuwono IV dalam serat Wulangreh)

 

artinya ilmu itu bisa dipahami/ dikuasai harus dengan cara, cara pencapaiannya dengan cara kas, artinya kas berusaha keras memperkokoh karakter, kokohnya budi (karakter) akan menjauhkan diri dari watak angkara (sumber: wikipedia, diakses 13 November 2019). 

 

Ilmu tidak cukup diajarkan di bangku sekolah tanpa implementasi dalam dunia nyata, karena akan berbeda rasa dan penjiwaan yang didapatkan antara sekedar belajar teori dan terjun langsung menerapkan teori dalam dunia nyata. Itu merupakan salah satu “ilmu kehidupan” yang saya dapatkan melalui lelaku dengan mengunjungi Habib bin Hasyim bin Yahya di Pekalongan. Perjumpaan saya dengan seorang pekerja bangunan yang ditinggal “lari” mandornya memberikan sensasi yang berbeda dalam khazanah bangunan kejiwaan saya.

 

Sejak dahulu kala saya sudah tahu bahwa hidup itu harus sabar, kuat, ulet, pantang menyerah dan seabrek nilai-nilai kemulyaan yang diajarkan oleh guru-guru TK, SD, SMP, dan seterusnya. Akan tetapi saya merasakan bahwa nilai-nilai kebaikan yang didapat hanya secara teori di bangku sekolah seringkali terasa hambar, sehingga secara teori saya mengetahui namun untuk melaksanakannya terasa berat.

 

Dengan terjun langsung di masyarakat akan didapatkan penjiwaan yang lebih mendalam terkait nilai-nilai kebaikan yang sudah kita ketahui. Ketika mendengarkan curahan hati saudaraku pekerja bangunan yang sedang kesusahan akibat uang bayarannya dibawa lari oleh mandornya, saya melihat secara langsung ekspresi wajahnya, saya melihat langsung anak dan istrinya, saya mendengar getaran kesedihan dan kemarahan dari nada bicara serta intonasi suaranya.

 

Saya juga melihat sakit di kedua tangan saudaraku ini dan langsung bisa membayangkan bagaimana bekerja dengan kondisi tangan yang mohon maaf, cacat itu ….

Masih terekam di dalam benak saya, ketika saudaraku pekerja bangunan ini mengatakan: “Barangkali itu uang gak seberapa (cuma 700 ribu rupiah), namun bagi saya itu sangat berharga. Saya tahu ini ujian dari Alloh, tapi kok gini-gini amat yak …”, yang dia ucapkan dengan logat khas ngapak.

 

Setiap kali saya melantunkan wirid dengan tasbih, saya ingat benar-benar sauadaraku pekerja bangunan itu yang saya kira tidak akan mampu menggunakan tasbih seperti halnya saya. Saya gagal sowan Habib bin Hasyim bin Yahya, namun perjumpaan dengan saudara pekerja bangunan hebat, yang sangat sayang dan tanggung jawab dengan anak istrinya ini merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Semoga Gusti Alloh memberikan kemudahan untuk hidupmu saudaraku, dan juga untuk kita semua. Amin…Amin… Ya Robbal’alamiin.

 

editor : OB_Semut

 

_______

Pekerja Bangunan Yang Ditinggal Mandornya

Bagian 1: Posisi Ulama Bagi Wong Cilik serta Kaitannya dengan Khittah Nahdliyah

Bagian 2: Ilmu “Tepo Seliro”