Ilmu “Tepo Seliro"

Artikel 2020-01-11 Ngumar


Bagian 2: Ilmu “Tepo Seliro”

 

Ketika sowan Habib bin Ali bin Hasyim di Pekalongan, saya amati keseharian kegiatan beliau. Siang hari hampir selalu tindakan, biasanya kembali larut malam. Ketika kembali sudah banyak tamu yang menunggu ingin sowan, dan biasanya Sang Habib langsung menemui tamu-tamunya yang hadir dengan berbagai maksud dan kepentingan. Seringkali Sang Habib berbincang dengan tamu-tamunya hingga waktu subuh. Mulai ba’da subuh Sang Habib biasanya sudah tidak kerso menemui tamu, kemudian beraktifitas seperti melukis.

 

Sering kali kita melihat segala sesuatu hanya berdasar sudut pandang kepentingan kita semata. Kita sering terpesona dengan prestasi dan nama besar orang lain tanpa mau melihat proses untuk mencapai kesuksesan tersebut. Dari hasil perbincangan dengan salah satu santri Habib bin Ali bin Hasyim saya mendapat informasi bahwa Sang Habib pernah memiliki cucu laki-laki yang sangat beliau sayangi namun meninggal ketika masih anak-anak.

 

 

Tepat di depan gedung Sholawat, ketika cucu Sang Habib digandeng untuk menyeberangi jalan, secara tiba-tiba dan entah bagaimana cucu Sang Habib melepaskan gandengan tangannya dan berlari begitu saja di jalan raya. Secara kebetulan ada kendaraan yang melaju dan tanpa sengaja menabrak cucu Sang Habib hingga meninggal dunia. Sang pengendara yang menabrak cucu Sang Habib sedemikian menyesal dan dengan didampingi sanak saudaranya sowan Habib bin Ali bin Hasyim untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

 

 

Bagaimana sikap Sang Habib dan keluarganya? Ini yang menarik….

Dengan berurai air mata Sang Habib berkata: “Iki kabeh wis kersane Gusti Alloh, sing penting saiki pasedulurane awak dewe ojo nganti pedhot …” yang artinya “Ini semua sudah kehendak Gusti Alloh, yang penting sekarang persaudaraan kita jangan sampai putus …“. Sang Habib dan keluarga memaafkan orang yang menabrak cucunya hingga meninggal. Ini luar bisa menurut saya dan bisa kita ambil pelajaran dari kejadian ini.

 

Habib bin Ali bin Hasyim pun pernah merasa sedih, setiap orang menerima ujiannya masing-masing. Orang-orang yang sowan ke Habib bin Ali bin Hasyim juga banyak yang sedang kesusahan. Saya berpikir, apakah Habib bin Ali bin Hasyim tidak repot menerima tamu-tamu itu?, Apakah tidak sumpek menerima keluh kesah dari masalah-masalah yang seharusnya secara formalitas negara dan pemerintahan bukan tugas beliau?, Bagaimana dengan waktu untuk keluarganya?, Sebagai manusia biasa Habib bin Ali bin Hasyim tentunya juga bisa merasa lelah, jenuh dan sumpek. Menurut saya, kita perlu tepo seliro dengan siapapun, tidak boleh hanya diri kita saja yang kita pikirkan.

 

Ketika sowan ke kediaman Habib bin Ali bin Hasyim, saya melihat banyak hal yang jarang saya lihat sebelumnya. Saya putuskan untuk segera pulang ke Magelang. Barangkali di antara antrian para tamu ada yang lebih memerlukan untuk berjumpa Sang Habib dari pada saya.

 

 

Setidaknya dapat mengurangi jumlah antrian dengan kepulangan saya. Saya pulang dari Pekalongan ba’da Isya dalam kondisi hujan lebat, melewati jalan sepi dan gelap gulita. Ketika perjalanan pulang, berkali-kali kesasar karena hujan lebat sehingga GPS tidak dapat diandalkan. Alhamdulillah saya masih dianugerahi Gusti Alloh keselamatan hingga bisa tiba di rumah jam 1 dini hari.

 

 

editor : OB_Semut

 

_______

Pekerja Bangunan Yang Ditinggal Mandornya

Bagian 1: Posisi Ulama Bagi Wong Cilik serta Kaitannya dengan Khittah Nahdliyah

Bagian 3: Ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese durangkara